Foto: Ina

Ragam olahan sate kambing dapat disajikan menjadi berbagai jenis masakan khas nusantara. Di Tegal, daging kambing juga memberikan suguhan sate kambing dan sop kambing yang memiliki cita rasa berbeda dengan daerah lainnya. Ketika Anda pergi ke Tegal, anda akan menemukan warung sate dan sop kambing khas Tegal yang bertaburan di seluruh penjuru daerah ini.  Daging kambing yang digunakan adalah daging kambing berusia di bawah lima bulan (balibul), bahkan banyak yang usianya masih di bawah tiga bulan (batibul).  Ya. Inilah santapan yang terkenal di Tegal, Jawa Tengah.
Kali ini, saya bareng bulik mengunjungi warung sate dan sop kambing balibul yang berlokasi di belakang PLN Slawi-Kabupaten Tegal. Nggak lama setelah memesan, menu pesanan kami datang. Nah ini dia, sate kambing dan sop kambing khas Tegal. Disajikan dengan bumbu sambal kecap serta tambahan irisan tomat dan bawang.  Satenya terasa sangat empuk dan gurih.  Kombinasi bumbu rempah yang digunakan dalam sop kambing juga terasa pas, tidak terlalu kental, menjadikan sop terasa meresap di lidah dan nikmat disantap panas-panas. Daging kambing yang digunakan untuk sop adalah bagian iga dan dekat tulang lunak. Kami juga memesan minuman teh khas tegal, yaitu Teh Poci. Aromanya dan rasanya segar dengan wangi teh yang alami menyempurnakan selera kuliner. Memang, selalu ada yang berbeda dari sajian daging kambing di berbagai daerah, termasuk Tegal. Walaupun mungkin hanya modifikasi dan takaran bumbunya yang berbeda. Namun, kreasi bumbu ini tentu memperkaya keanekaragaman kuliner di nusantara.

Mari makan! 


Price:
2 porsi sate kambing + 2 gelas teh poci + 2 porssi nasi + 1 porsi sop kambing = Rp.66.000
Ditraktir bulik. hehehe 
Lokasi : Dekat PLN Slawi, Tegal, Jawa Tengah
Bulan ramadhan 2012 ini full saya jalani di tanah perantauan. Tentu nuansanya sangat berbeda dibanding ramadhan yang sudah-sudah.
Nggak ada istilah beli makanan sahur, buka di masjid, masak bareng ibuk, buber nongkrong keren halah gak ada. Kali ini, temanya kebersamaan dalam kesederhanaan. Masak bareng temen sekos. Oya, sekedar info, di sini masih menggunakan kompor minyak lho...karena harga minyak tanah murah meriah... 3500 rupiah per liter...
Alhamdulilah kos kedua saya ini dekat dengan musolla. Sehingga saya dan teman-teman kos nggak kesulitan untuk menjalankan ibadah shalat tarawih :-) cukup jalan kaki beberapa meter saja.
Oya di sekolahan juga ada acara sehari untuk yang beragama muslim. Pesantren kilat dan buka puasa bersama. Hal ini menunjukkan tingginya toleransi beragama di sekolahku. Bahkan, kepala sekolah turut hadir ssekedar memberi sambutan saja. Selebihnya, acara diikuti siswa-siswa muslim dan guru. Yang masak bubur kacang ijo untuk buka puasa adalah guru wanita yang beragama non muslim (dibantu beberapa siswa non muslim). Tuh kan...toleransinya begitu tinggi. Menu buka puasanya itu tuh... yang foto...sebelah kanan pojok bawah.. hmmm ada bubur kacang ijonya juga :-)
Dan setelah sekian tahun nggak ikut upacara 17 Agustus, tahun ini saya , Mbak Feri dan Mas Bangkit upacara 17 agustus di lapangan pu'ukungu di kecamatan kami. 
Melihat naga purba alias komodo? Ah, sudah sering tuh. Tapi cuma gambarnya doang, atau lihat di acara televisi. Nah, pada ekspedisi kali ini saya dan teman-teman seprogram berkesempatan untuk mengunjungi taman nasional komodo.Pagi itu, 27 Juni 2012, kami berangkat dari Ende menuju Labuan Bajo-Kecamatan Komodo dengan naik bus DAMRI carteran. Bus DAMRI berukuran sedang dan berkapasitas 20 penumpang ini masih baru, kursinya saja masih dilapisi plastik sehingga nyaman untuk ditumpangi.
Duduk di kursi dekat jendela, saya bisa menikmati pemandangan alam Flores yang teksturnya berbukit-bukit. Tampak jalanan berliku, jurang, tebing dan perbukitan yang menghiasi sepanjang perjalanan kami. Namun, tidak semua daratan Flores itu panas, gersang dan tandus. Ada beberapa daerah di Kabupaten Manggarai yang berkabut tebal, memiliki undakan sawah dan cuacanya dingin.
Setelah menempuh 14 jam perjalanan darat, akhirnya pukul 22.00 WITA kami tiba di Labuan Bajo. Tekstur alam yang berbukit membuat perjalanan darat di flores tidak bisa secepat menempuh perjalanan darat di Jawa. Apakah kami sudah sampai ke taman nasional komodo? Oh, belum. Kami harus beristirahat semalam di penginapan dekat dermaga Labuan Bajo. Tarif sewa per kamar adalah 50.000 IDR/malam untuk satu kamar dengan kuota dua orang. Saat saya melihat kamarnya...hmmm not bad lah. Terdapat fasilitas sebuah dipan kasur lebar dan sebuah kipas angin. Kamar mandi di luar dan airnya terbatas. Penginapan itu letaknya strategis di samping pasar ikan. Pantas saja kami dapat hiburan berupa bau ikan-ikan yang menusuk hidung. Hahaha. Karena tidak ada fasilitas makan dari penginapan, kami makan di luar dengan harga yang mahal. Misalnya: seporsi cumi ca jamur, nasi, teh hangat harganya 30.000 IDR. Nggak apa-apa deh sesekali, asal jangan keseringan...bisa bangkrut. Hehe. Cita rasanya mantap, sesuai dengan harganya. 
dua porsi cumi ca jamur, pesanan saya dan mbak ayu


1343135098191235718
Dermaga Labuan Bajo (difoto dari depan kamar penginapan lantai 2)

 Keesokan harinya, 28 Juni 2012, kami bersiap untuk menuju taman nasional komodo dan menyewa kapal motor sebagai sarana transportasi menuju rumah komodo. Kapal motor ini kapasitasnya 15-20 orang. Tidak terlalu besar, tetapi ada kamar mandinya. Ada sih kapal yang lebih bagus lagi, tapi harganya juga selangit. Jadi, kami memilih yang biasa-biasa saja. 
Berangkat naik kapal motor

indahnya pemandangan di laut
Menempuh perjalanan di lautan, kami bisa melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Hore! Tampak perbukitan dan pulau-pulau kecil yang memukau pandangan mata. Terkadang ikan-ikan bermunculan melompat ke atas permukaan laut. Suara musik yang diputar melalui handphone menambah suasana bahagia kami di atas kapal motor. Beruntung kondisi lautan bagus (ombak tidak besar) dan cuaca cerah. Setelah menempuh hampir 3 jam perjalanan laut, akhirnya kapal motor merapat ke dermaga Loh Buaya di Rinca. Dengan bersemangat, saya turun dari kapal motor dan melangkahkan kaki di sepanjang jembatan kayu menuju gerbang masuk taman nasional komodo. Seperti mimpi saja, bisa mengunjungi langsung taman nasional komodo yang selama ini saya lihat di media massa dan media elektronik.
welcome to komodo national park
Puji syukur, saya tiba juga di taman nasional komodo-Rinca.  Lokasi ini memiliki hamparan alam yang menakjubkan. Wow! Saya merasa seperti terjebak di gurun-gurun yang ada di afrika. Bagaimana tidak. Kami disuguhi pemandangan yang nampak seperti gurun savana. Indah, tetapi tandus dan gersang. Namun, pemandangan gersang itu tidak lama. Berikutnya sudah banyak pepohonan bakau yang tampak menghiasi habitat sang naga purba ini. Para bule banyak juga yang berkunjung kemari, lho. Setelah lapor diri ke petugas, datanglah pemandu (rangers) yang akan menemani trekking kami, sekaligus mengamankan kami dari kawanan komodo yang buas. Pemandu juga membawa kayu dengan panjang sekitar 2 meter yang memiliki ujung menyerupai huruf Y dan digunakan untuk menghalau komodo yang mendekat.
Gurun savana di pulau rinca
Sekilas info mengenai komodo yang saya dapat dari pemandu: Komodo (Varanus komodoensis) dapat dijumpai di Taman Nasional Komodo yang telah ditetapkan sebagai a World Heritage Site oleh UNESCO. Rangers berkata bahwa komodo aktif berjalan-jalan pada pukul 09.00-11.00 pagi dan 15.00-17.00 sore. Seekor komodo punya porsi makan yang luar biasa, yaitu seekor kambing, rusa atau kerbau. Jumlah komodo betina sangat sedikit, makanya para komodo jantan sering berkelahi untuk memperebutkan komodo betina. Para komodo betina kadang juga berkelahi untuk berebut tempat bertelur. Ada-ada saja. Saya membayangkan, pasti unik sekali berantemnya. Andai saja saya bisa melihatnya.
Komodo berkeliaran dengan bebas di habitat mereka ini. Seekor anak komodo tampak berjalan sambil menjulurkan lidahnya. Aha! Perlahan, saya mengikutinya dengan niat ingin memotretnya. Namun, tak disangka si anak komodo itu sadar kamera dan berbalik menuju arah saya. Saya terkejut dan buru-buru naik ke posko. Syukur saja, si anak komodo pergi menjauh dan memanjat pohon dengan lincah.
Saya pun turun dari posko. Di dekat kantor balai taman nasional komodo, saya melihat tengkorak rusa dan kerbau yang ditempelkan di pohon. Kata pemandu, itu adalah tengkorak hewan yang menjadi mangsa komodo. Wah. Saya menggeleng-gelengkan kepala karena takjub dengan buasnya komodo. Jangan sampai salah satu dari rombongan kami jadi mangsa berikutnya.
Tengkorak rusa dan kerbau di belakangku
Tidak jauh dari posko, terlihat seekor komodo tua berukuran sekitar 2 meter berjalan perlahan. Namun, jangan salah. Jika sedang memburu mangsa, komodo ini geraknya cepat sekali (18 km/jam). Selain itu, penciumannya tajam terhadap luka maupun bau darah. Oleh karena itu, disarankan bagi wanita yang sedang haid untuk tidak ikut trekking. 
Saya dan teman berjalan menuju dapur yang berupa rumah panggung. Di situ, terlihat 8 ekor komodo besar sedang bermalas-malasan. Kalau komodo yang besar sih nggak bisa memanjat pohon. Ranger mengatakan bahwa komodo-komodo itu suka berdiam di dekat dapur karena sering diberi makan. Selain itu, bau amis yang sering muncul dari dapur membuat mereka betah berada di sekitar dapur. Tidak mau kehilangan momen, saya mengabadikan para komodo itu dengan kamera digital. Ah, andai saja tidak berbahaya, rasanya ingin memeluk hewan berukuran 2-3 meter yang memiliki berat 90-100 kilogram itu. Berbahaya? Ya. Selain dikenal dengan sebutan hewan pemangsa, rupanya air liur komodo mengandung 60 bakteri yang mematikan. Pemandu kami bercerita, pernah suatu hari ada seorang pemandu yang terkena air liur komodo saat melindungi wisatawan yang sedang trekking. Pemandu tersebut segera dilarikan ke Denpasar untuk mendapat pengobatan sebelum berakibat fatal.


komodo sedang bermalas-malasan.

Komodoooooo
 Sekitar pukul 13.30 WITA, kami kembali ke kapal dan menyantap makan siang karena perut sudah ribut minta makan (lagi). Setelah itu, perjalanan pun berlanjut. Saya tidak memiliki keinginan untuk tidur meskipun perut sudah kenyang dan badan terasa agak lelah. Sebab, hamparan pemandangan laut yang indah sungguh sayang untuk dilewatkan! 
Kami mampir di pulau kecil bernama Pulau Kelor yang memiliki pantai dengan pasir berwarna putih. Setelah itu, kami juga sempat mampir di Pulau Bidadari yang juga memiliki pasir putih. Nah, ini dia pantai yang asyik! Sama seperti pantai di Pulau Kelor, pantai di Pulau Bidadari juga sepi dan nyaman. Lokasi ini sangat cocok untuk snorkeling karena memiliki pemandangan bawah laut yang indah. Namun, kapal tidak membawa peralatan snorkeling. Ya sudah, akhirnya kami hanya bermain air dan berfoto narsis di pulau kecil nan cantik itu. Pokoknya serasa berada di pantai milik sendiri deh! 

Pantai di pulau kelor dengan batu karangnya yang indah

pantai di pulau bidadari secantik nama pulaunya

Waktu beranjak semakin sore. Kamipun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Labuan Bajo. Beberapa teman saya ada yang tidur karena kelelahan seharian berkelana di taman nasional komodo dan sekitarnya. Saya dan Mbak Ayu masih asyik mengobrol. Di atas kapal yang berlayar, terlihat matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala. Sungguh sunset yang indah. Ditambah angin laut yang sepoi-sepoi dan tidak kencang membuat siluet senja semakin memukau. Dari atas kapal saya menikmati suasana senja dan sunset. Menikmati hembusan angin laut. Menikmati pemandangan laut. Menikmati karunia Tuhan yang tak terkira. Menikmati seluruh perjalanan ini. Kunjungan ke Pulau Kelor dan Pulau Bidadari adalah bonus seusai mengunjungi taman nasional komodo.
indahnya sunset dilihat dari atas kapal
 Malamnya, kami membeli souvenir, dinner di pinggir pantai dan bermalam di penginapan. Barulah keesokan harinya 29 Juni 2012 kami melanjutkan perjalanan pulang ke Ende. Bapak supir begitu tenang dan pintar dalam mengendalikan bus, sehingga saya tidak mabuk darat selama perjalanan. Bus terus melaju meninggalkan Labuan bajo diiringi alunan musik dangdut “iwak peyek...iwak peyek...joged asolole...” untuk menghibur (dan membuat tertawa) penumpang.
Perjalanan saya ini membuat saya semakin kagum akan keanekaragaman wisata alam di Indonesia. Apalagi kini pemerintah makin memperhatikan Taman Nasional Komodo untuk melestarikan komodo yang merupakan satwa langka. Aku merasa beruntung bisa berwisata ke rumah ora (sebutan untuk komodo dalam bahasa daerah). Taman Nasional Komodo memang pantas dijadikan salah satu keajaiban dunia. Maju terus Taman Nasional Komodo! Maju terus pariwisata Indonesia!

Perjalanan hidup episode ini membawa saya ke Ende, sebuah kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Liburan sekolah tiba mulai 22 Desember 2011. Siswa libur maka saya sebagai guru pun libur. Hehehe. Seusai penerimaan raport, membuatku ingin menghabiskan liburan di Kota Ende saja ketimbang di desa penempatanku. Yach…sekalian menuntaskan jiwa petualang dalam diri saya. Dengan kata lain, ingin jalan-jalan. 
Ada 3 tempat yang saya kunjungi di Kabupaten Ende.
Berkelana di Pulau Ende


Tempat pertama bernama Pulau Ende. Luasnya hampir sama dengan pulau nusa kambangan.Namun, jangan bayangkan ini adalah pulau buangan tempat para residivis bermukim seperti Pulau Nusa Kambangan. Pulau Ende ini lumayan banyak penghuninya. Dengan menaiki kapal motor dari pelabuhan kota Ende, Pulau Ende bisa ditempuh dalam waktu sekitar 60-100 menit tergantung kondisi lautan. Saya pergi dengan 14 orang teman. Hari itu, kami berangkat ke Pulau Ende jam 09.30 WITA. Kami menaiki kapal motor dengan tarif murah, hanya 5000 rupiah per orang. 
 
berpose di depan SD inpres Pulau ende

merapat ke pulau ende. we are coming!

Satu setengah jam kemudian, kami sampai di Pulau Ende. Memang sih, ini bukan pulau wisata. Kami memang ingin sekedar jalan-jalan saja untuk menjawab rasa ingin tahu. Mumpung sedang merantau di Ende, gunakan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang tak terduga sebelumnya. Uniknya, 100 % penduduk di pulau Ende ini adalah muslim. Berbeda jauh dengan penduduk Kabupaten Ende di luar pulau yang 70% katolik. Mayoritas rumah penduduk di Pulau Ende terbuat dari rumah kayu sederhana, tetapi terlihat apik dan menawan dengan kesederhanaannya itu. Di sini gersang, tidak ada toko, tidak ada jalan raya dan tidak ada SMA. Hanya ada 1 buah SMP di pulau yang banyak penduduknya ini. Jalanannya hanya berupa gang-gang kecil saja. Di spot-spot tertentu (pinggir pantai), sinyal telepon seluler kuat. Sudah terdapat listrik PLN, tetapi hanya menyala setengah hari yaitu pada malam hari saja. Pagi dan siang hari tanpa listrik.

Di pulau ini, kami menyempatkan diri sebentar untuk melihat proses pembuatan kain tenun khas ende. 

Penduduk pulau ende masih sering kesulitan air bersih. Kalau air pantai ya tentu saja banyak. Hehehe. Air sumur terasa agak asin karena letaknya yang berdekatan dengan bibir pantai. Cuaca di pulau ini sangat panas. Tentunya, banyak ‘pemandangan’ sekitar yang unik bagi kami, membuat kami saling memandang dan akhirnya tertawa. Misalnya, orang memakai masker (pupur) dan berjalan-jalan. Justru di sinilah seninya. Menikmati pemandangan berupa kebiasaan di lingkungan baru adalah suatu yang menarik bagi kami. 

Supaya nggak ketinggalan kapal motor, pukul 12.45 WITA kami beranjak dari Pulau Ende untuk kembali menuju pelabuhan Kota Ende. Sesampainya di pelabuhan Kota Ende, kami sudah lapar. Kami langsung capcus jalan kaki ke pasar untuk beli bakso atau gado-gado. Sambil mengunyah bakso, aku terbayang pemandangan penduduk di Pulau Ende. Mayoritas penduduk kurang mampu. Ah. Sekian puluh tahun Indonesia merdeka, di tengah berjamurnya bangunan megah di perkotaan, nunj auh di sana masih banyak masyarakat yang bertahan hidup dalam keterbatasan air, listrik maupun fasilitas hidup lainnya. 
Mengenang Sejarah di Rumah Pengasingan Bung Karno
Tempat kedua yang kukunjungi di Kabupaten Ende adalah rumah pengasingan Bung Karno.

Udara panas dan matahari terik masih menyelimuti Kota Ende. Siang itu, saya menemani Dian (rekan satu program) ke toko yang menjual buku pelajaran. Saya iseng bertanya kepada yang jual buku, “ Pak, katanya di Kota Ende ada rumah pengasingan Bung Karno. Itu di sebelaah mana ya?”

Dia menjawab, “Ohhhh…itu dekat dari sini. 200 meter di belakang toko ini, Mbak.” (Dia orang Jawa juga, jadinya manggil saya Mbak)

Wah, kebetulan banget nih! Kuajak Dian jalan kaki ke rumah itu setelah kami pulang dari toko. Cuaca masih sangat panas,membuat kami seperti mandi keringat. Mampir di rumah pengasingan Bung Karno, kami seperti merasakan suasana sejarah di masa lampau. Di rumah itu, ada peralatan makan, foto-foto dokumentasi, lukisan dan kamar tidur Bung Karno. Tidak dikenakan tarif khusus untuk berkunjung kemari, cukup mengisi kotak seikhlasnya saja. Setelah merasa cukup melihat-lihat, kami memutuskan pulang ke kos teman naik ojek.

Pendakian Menuju Danau Kelimutu

Selanjutnya, tempat ketiga yang kukunjungi adalah Danau Kelimutu. Di penghujung Desember 2011, saya dan teman-teman lain mengunjungi Danau Kelimutu. Berbekal iuran Rp. 50.000 per orang, kami menyewa 2 buah bus DAMRI kecil. Sekitar pukul 07.00 WITA, kami berangkat ke sana. Tidak lupa saya membawa kamera digital. Mungkin hanya sekali seumur hidup saya berkunjung kemari. Sehingga berfoto adalah momen penting yang sayang jika dilewatkan. 

Perjalanan dimulai dari jam 07.00 WITA, start dari Kota Ende. Sepanjang jalanan berliku, berkelok dan naik turun. Sampai di lokasi sekitar jam 09.30 WITA. Harga tiket masuk yang tertera di karcis adalah 2500 per orang. Nah, murah bukan?

Danau Kelimutu tak lepas dari sejarah cerita di baliknya. Ada tiga danau beda warna yang warnanya berubah-ubah menyesuaikan kondisi-kondisi tertentu. Ketiga danau itu bernama danau Tiwu Ata Polo, Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Mbupu. Untuk menuju danau yang puncak, kami harus berjalan mendaki. Udara di kaki danau relatif sejuk dan agak dingin. Berbeda dengan suhu udara di puncak yang sangat panas dan tercium bau belerang. Bau belerang yang cukup menyengat membuat kami terbatuk-batuk.


Waktu kami datang, kami melihat danau berwarna hitam, biru muda dan hijau. It’s soooo amazing. Sekitar pukul 12.30 WITA, kami memutuskan untuk kembali pulang ke Kota Ende. Di parkiran banyak penjual kopi, teh, susu dan popmie. Harga secangkir minuman 5000 rupiah, sedangkan seporsi popmie 7000 rupiah. Tidak mahal untuk ukuran daerah wisata.

Sayonara Kelimutu Lake!

Demikian cerita perjalanan saya pada musim liburan anak sekolah. Sepertinya, masih ada tempat-tempat lainnya yang akan saya kunjungi selama saya berada di tanah perantauan ini.