Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

[One Day Trip #Part 3 #End] Jalan-jalan ke Kebun Teh Puncak dan Safari Night Bogor


Rangkaian tulisan sebelumnya :


Jalur Puncak Bogor yang pake sistem buka-tutup ngga begitu ngefek buat saya dan Kak Irma karena kami naik motor. Setelah bersenang-senang liat aneka bunga di Taman Bunga Nusantara,  kami lanjut menyusuri jalanan menuju arah Bogor. Hmmm…namanya juga perempuan. Liat bunga beneran aja udah seneng, apalagi kalo dikasih bunga dari abang deposito dari bank :-p

[One Day Trip #Part 2] Taman Bunga Nusantara : Keindahan Warna di Puncak



Setelah dari Little Venice, saya dan kak Irma jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara yang masih berlokasi di sekitar kawasan Puncak. Walaupun udah masuk ke wilayah Cianjur, tetap aja terdengar familiarnya daerah Puncak Bogor karena memang ada di lokasi perbatasan antara kedua kabupaten tersebut.

[One Day Trip #Part 1] Nuansa Ala Venezia di Little Venice, Kota Bunga, Cianjur



Ide one day trip alias nge-trip sehari di sekitar Bogor, muncul tiba-tiba di kepala saya. Soalnya Sabtu libur dan saya ngga pulang. Padahal Seninnya Idul Adha dan umumnya teman-teman pulang. Ajakin Kak Irma main aja deh. Teman yang sebenernya ngga mau dipanggil ‘kak’ ini  ngga mungkin pulang ke Medan :p Begitu aku tawarin, dia mau dan langsung nge-bis dari Bandung  ke kosnya di  Cibinong. 

Mendadak ke Pantai Baru, Bantul, DIY di Tahun Baru


Pantai Baru di Tahun Baru

Kami ngga ada niatan kemari. Justru yang dadakan itu seringkali terlaksana ketimbang agenda wisata yang direncana jauh-jauh hari. Makanyaaa, tahu bulat digoreng dadakan.Jadi! Wkwkwk. Kok bisa nyangkut ke Pantai Baru? Awalnya ada urusan keluarga yang batal. Kebetulan kami sudah sampai di Bantul dan mau pulang ke Cilacap lewat jalur Srandakan Bantul lurus sampai area Petanahan Kebumen.
Ide usil saya tiba-tiba aja terlontar.
“Pak, di dekat sini kan ada Pantai Baru. Main ke sana dooonnng….”

Melenggang ke Kampung Naga~ Tasikmalaya~ Jawa Barat





Yang lagi kangen jalan-jalan mana suaranyaaa?

*kemudian angkat tangan*
Bener nih lagi butuh refreshing meskipun hujannya kadang turun. Jalan-jalan di alam terbuka mana seru kalo hujan?
Menurut ramalan cuaca, curah hujan di awal September 2016 diperkirakan lumayan intensitasnya. Ah, anggap aja berita itu angin lalu. Saya lebih suka kalo dilamar ketimbang mendengar ramalan cuaca #ups.

Walking Tour Sekitar Jatinegara Bersama Jakarta Good Guide




 Sebenernya aku ikutan edisi jalan-jalan gratisan ini udah lama, Maret 2016. Kira-kira 2 minggu sebelom aku prajab lah. Tapi, baru dibikin postingannya nih. Siapa tau bisa bermanfaat buat pembaca blog ini. Khususnya yang lagi cari referensi ke mana mau ngabisin uang, eh, maksudnya ngabisin waktu untuk sekedar jalan-jalan di kala weekend :p

Sejak tinggal di Bogor, aku lumayan demen jelajahin tempat baru. Biasanya sih naik KRL dan bus APTB. Nah, kali ini aku lagi cari jalan-jalan yang murah meriah. Asalkan bisa nambah wawasan baru. Trus aku buka-buka IG nya Jakarta Good Guide. Di blognya juga ada infonya sih. Pengen kepoin blognya? Klik di sini.  Ada program yang namanya free walking tour. Tujuannya berbeda-beda tiap minggunya. Bener-bener free lho. Kalo mau ngasih tips untuk guide-nya? Boleh, boleh banget.

Piknik ke Taman Wisata Alam Mangrove~Pantai Indah Kapuk~Jakarta Utara

Pintu n jalan Masuk


 Sepintas judul di atas ambigu. Tulisan ini ngebahas hutan mangrove atau pantai? Soalnya ada temen yang bertanya pas saya upload foto di jejaring medsos dengan judul yang sama.

“Itu kamu ke pantai apa ke hutan?Pantainya indah gitu?*

Bukan pergi ke pantai, tapi ke Hutan Bakau Mangrove. Bukan juga ke Pulau Kapuk alias kasur,bantal dan guling. Maunya sih ku lari ke hutan lalu belok ke pantai, biar kayak puisinya Rangga di film ‘Ada Apa dengan Cinta.’

*Wes, sak karepmu wae lah Na :p *

Jalan-jalan Edisi Pandeglang ~ Kenalan Sama Beach Club Tanjung Lesung


Hari saya di Bulan Agustus 2015 kemarin diawali dengan ikutan piknik ke Beach Club Tanjung Lesung. Pantai ini letaknya di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Untuk menuju kesana dari Bogor, kami melewati rute tol Jakarta-Tangerang- lewat Serang- deretan Pantai Anyer-lalu Pandeglang. Saat memasuki Kabupaten Pandeglang, jalannya mulai berliku. Cukup lama juga kami menempuh perjalanan naik bus, sekitar 8 jam. Berangkat pagi, sampai di sana jam 2 siang. Kami beristirahat dulu di homestay yang udah disewa oleh panitia.
homestay

Berperahu di Hijaunya Green Canyon


Waktu liburan bulan Ramadhan kemarin, saya lumayan lama berada di rumah. Sampai suatu hari saya memutuskan buat menghibur diri ke Kabupaten Pangandaran. Bukan dalam rangka cari wangsit, melainkan mau jalan-jalan menjernihkan pikiran. Abis gimana ya, ngejernihin pikiran ngga segampang ngejernihin baju yang kotor gitu lho...baju kan cukup pakai molto sekali bilas...eh malah promosi?!! Maap... :-p

Jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor



Hallooo kawan, kemarin waktu liburan imlek 1 hari pada ke mana nih?
Ada 2 perempuan single, sebut aja namanya Uni Vio dan Teh Yeni (nama sebenarnya) nginep di kosku. Senasib-sepenanggungan-seperjuangan ngerantau di tanah Bogor ini. 
Sambil ngemil setengah lusin donat J.Co yang dibawa Yeni, kami ngerencanain mau jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor (KRB).

Keliling Pantai Pasir Putih dan Pulau-pulau Mini dengan Modal 100 Ribu


Jalan-jalan tidak selalu mengakibatkan ‘kerusakan dompet’ sampai ratusan ribu rupiah. Semasa masih jadi anak kuliahan, saya dan sahabat saya, Prita, nge-gembel di Solo dengan modal 45 ribu per-orang. Eit, bukan gembel dalam arti yang sebenarnya yach. Padahal berangkatnya dari Jogja naik kereta prameks, nyampe di Solo juga muter-muternya mengandalkan becak dan angkot. Nggak ada istilah belanja-belanja batik. Yang penting muter-muter mall, pasar, obyek-obyek wisata dan makan. Yes, dugem (maksudnya: duduk kayak gembel) is very fun! Bagi kami, jalan-jalan itu seperti ‘melihat dunia’.

[My Unforgettable Trip] Serunya Pergi ke Pemandian Air Panas Mangerunda Naik Bis Kayu

  Semua orang pasti pernah berwisata atau sekedar jalan-jalan. Entah itu ke pantai, gunung, mall, kebun binatang, kebun bunga, kebun jengkol, atau sekedar ke warung bakso. Nah, pasti dong sobat blogger punya cerita tentang perjalanan yang tak terlupakan. Mungkin karena terpesona dengan pemandangan aduhai yang sobat kunjungi, atau malah terpesona dengan orang yang nemenin ke objek wisata itu #eh. Bisa juga menjadi sesuatu yang istimewa karena ban tiba-tiba bocor, kehujanan, dan lain-lain. Begitu juga denganku. Perjalanan plesiranku yang ini memang nggak terlupakan. 

bersiap mau berangkat
 Jadi hari itu adalah hari perpisahan para murid kelas XII di sekolah tempatku mengajar saat itu.  Acara perpisahan dirayakan dengan cara pesiar ke Pemandian Air Panas Mangerunda. Nah lho, di mana kah itu? Hmmm Tepatnya di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Flores. Nggak Cuma murid kelas XII yang ke sana, melainkan juga murid kelas X, kelas XI, bapak kepsek, para guru,  mahasiswa PPL dari Universitas Flores dan karyawan. Lah terus di bagian mana yang bikin perjalanan ini jadi spesial? Sepintas biasa aja.

Menyambangi Sang Naga Raksasa di Pulau Rinca [dimuat di The Travelist, e-magz online]

Iseng ngetik keyword dengan nama sendiri ternyata berbuah manis. Google seperti mencatat sejarah kita di internet. Saya menemukan artikel saya yang dimuat di majalah online (e-magz) "The Travelist". e-magz ini linknya  http://the-travelist.com
Sebenarnya tulisan ini sudah lama sich dimuat di The Travelist. Lupa kapan pastinya. Hmmm ada sekitar setahun yang lalu.  Nggak apa-apa deh diposting di blog. Buat nambah-nambahin cerita perjalanan. Ah serasa jadi duta pariwisata yang lagi promo aja. haghaghag :-D

Majalah ini khusus memuat tulisan perjalanan wisata dan diutamakan wisata dalam negeri.
Berikut artikel saya , yang dimuat di http://the-travelist.com/index.php/pulau-rinca 

saya copas di sini deh.

Berwisata Sekaligus Belajar di Eco Green Park

rumah terbalik
 Sambil berkeliling, saya mengamati tata ruang yang ada di dalam rumah ini. Semuanya dipasang dalam kondisi terbalik! Meja, kursi, perabotan dapur, lampu bahkan kloset duduk. Dengan pelan saya berjalan menuju dapur yang wastafelnya terbalik. Kemudian…. Prangggg!!! Suara gelas dan piring pecah terdengar nyaring. Jatuh dari tempatnya dengan sendirinya. Ketika saya melewati pinggir kloset, omaigad… kotoran jatuh keluar dari dalamnya!

Masjid Tiban Turen, Uapik Tenan Rek! (Jalan Bareng Kawan PPL-PPG # Bagian 2-END)


foto:dokumen pribadi


Beberapa kawan merasa perjalanan kami kurang mantap karena tidak jadi main air di Pantai Goa Cina. Kawan-kawan berbincang-bincang di dalam minibus tentang obyek wisata yang mungkin bisa disinggahi sambil perjalanan pulang. Ada yang menyarankan ke air terjun Cuban Pelangi, tetapi sisa waktu tidak cukup dan mengingat kami tidak merencakan untuk menginap. Mbak Winda dan Mbak Epri menyarankan ke wisata religi bernama Masjid Tiban di daerah Turen, Kabupaten Malang. Setelah menanyakan lokasi pada Pak Sopir, ternyata lokasi masjid tersebut mudah dijangkau searah dengan rute yang ditempuh menuju Surabaya. Beberapa kawan seperti Mbak Aya, Mbak Epri, Mbak Winda mulai tertidur dalam perjalanan lanjutan.

Terpikat Foto Pantai di Malang Selatan (Jalan Bareng Kawan PPL-PPG # Bagian 1)


Saya kembali mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke Malang. Kali ini bersama rombongan kawan-kawan di lokasi tempat saya praktik mengajar di Surabaya. Total ada 15 orang yang ikut dalam rombongan ini. Rombongan berasal dari berbagai program studi dan satu lokasi sekolah tempat praktik mengajar dan penelitian tindakan kelas. Jumlah yang banyak membuat kami memilih menyewa kendaraan minibus dari Surabaya.

Study Tour ke LaPas Anak Kelas IIA Blitar dan Makam Bung Karno


Di area makam Bung Karno ada ukiran seperti ini di dinding.
 Peta Indonesia, tulisan proklamasi dan pahatan. Keren.


Apa yang pertama kali terlintas di benak kita saat mendengar kata “penjara”?
Sebuah tempat pembinaan untuk narapidana yang perbuatannya melanggar hukum.  Lebih tepat dan ‘halus’ jika saya katakan Lembaga Permasyarakatan (disingkat Lapas atau LP) saja ya, readers :-)  

Rombongan berkesempatan ke LaPas Anak kelas II A Blitar, Jawa Timur dalam sebuah acara kunjungan belajar (study tour) yang disepakati oleh dosen ketua jurusan pada bulan Juni 2013 lalu. Wah...udah setengah tahun yang lalu ya. Saat itu bertepatan dengan berakhirnya workshop Pendidikan Profesi Guru semester ganjil.  Rombongan berangkat dari Surabaya pukul 05.30 WIB dari Surabaya. Dosen-dosen pendamping kami lebih on time dan sudah menunggu di bus sebelum jam pemberangkatan. Salut untuk Bapak dan Ibu dosen!

Ekspedisi ke Gunung Bromo

Keberangkatan


Dua tahun lalu, seorang rekan saya, Yunus memajang foto-fotonya di Facebook. Foto-foto perjalanan ke Bromo bermotor ria bersama teman-teman klub Jogja MegaPro-nya. Saat itu saya Cuma bisa komen : “Keren!” sambil berandai-andai andai saya ke sana. Saya ingin ke sana! Kawasan Gunung Bromo itu masuk ke dalam Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Nggak diduga, awal Juni 2013 ada teman PPG yang nawarin ke Bromo. Kebetulan sisa kursi di mobilnya Mas Wisnu masih sisa 2-3 gitu. Rencana keberangkatan tanggal 5 Juni karena Kamis, 6 Juni-nya libur tanggal merah. Wow. It’s great! Maklumlah pada tanggal segitu kuliah masih padat. Kami tetaplah manusia-manusia yang butuh hiburan bernama liburan dengan acara plesiran. Walaupun Jumat, 7 Juni harus masuk kuliah. Hahaha. Saya  dan Mbak Anis tetap antusias menyambut tawaran manis itu. Iurannya 80.000/orang untuk transportasi kendaraan. Sip....bungkus!

Dari Pantai Teluk Penyu ke Pulau Nusakambangan



Beberapa kali membuat postingan saat berwisata di daerah perantauan, rasanya kurang komplit kalau saya belum menulis tentang wisata di daerah sendiri. Cilacap, daerah tempat saya berdomisili untuk saat ini. Sambil menyimak tulisan, mari siapin cemilan masing-masing. *nyengir*

Pantai Teluk Penyu adalah sebuah pantai yang paling terkenal di Cilacap, sebuah wilayah di Jawa Tengah yang letaknya di pesisir selatan. Jadi, Pantai Teluk Penyu ini langsung berhadapan dengan Samudera Hindia.  Katanya sih, dulu di sini banyak penyu. Namun, sekarang sudah nggak lagi. Pantai ini ramai pengunjung, terlebih kalau hari minggu. Ada ibu-ibu senam, ada murid-murid sekolahan yang lari pagi dan masyarakat yang sekedar jalan-jalan. 

Saya kembali mengunjungi pantai ini pada 1 Januari 2013. Lokasinya nggak jauh dari rumah. Hanya memakan waktu 10-15 menit kalau ditempuh dengan kendaraan pribadi. Kalau jalan kaki? Hahaha itu lain lagi! Karena bertepatan dengan moment tahun baru, pengunjung pantai jumlahnya 2 kali lipat dibanding hari biasa. Cuaca yang mendung nggak menghalangi orang-orang yang pada hari itu memadati pantai Teluk Penyu.  Terlihat banyak orang yang sedang ber-banana boat ria.
suasana Pantai Teluk Penyu kala Tahun Baru 2013

Pantai ini berpasir hitam dan memiliki ombak yang besar. Memasuki kawasan pantai, terdapat jalan beraspal sejauh 4-5  kilometer yang mengikuti kontur pinggir pantai. Terdapat juga banyak lesehan ikan bakar dan seafood, warung-warung yang menjual ikan mentah dan hasil laut lainnya. Mau cari aksesoris? Kios-kios yang menjajakan aneka souvenir khas siap menjawab keinginan anda. Ada tirai kerang, hiasan dari kerang, gelang, cincin, dan lain-lain.
Gambar trekdam diambil dari sini

Yang unik dari pantai ini, setiap tanggal 1 syuro, ada tradisi sedekah laut sebagai wujud rasa syukur. Sesaji-sesaji yang telah disiapkan akan dihanyutkan ke laut. Nelayan beramai-ramai melaksanakan ritual yang dilestarikan sejak turun-temurun ini. Keunikan lainnya, di sepanjang pinggir pantai terdapat banyak trekdam. Semacam jembatan puluhan meter yang menjorok  ke lautan. Kita bisa menikmati sensasi seperti berjalan di atas laut saat menelusuri trekdam itu. Di sekitar pantai juga terdapat banyak gazebo untuk duduk-duduk menikmati pemandangan laut. Ada juga Beteng Pendem yang berlokasi di kawasan Pantai Teluk Penyu. Kapan-kapan akan saya buat dalam postingan tersendiri.

Saat kami tiba di pantai Teluk Penyu, hujan sempat turun. Untung tidak lama kemudian reda. Seorang nelayan pemilik perahu menawari kami untuk berwisata ke Pulau Nusakambangan beserta rombongan lain yang telah berada di atas kapal. Wah kebetulan! Karena kami cuma berdua dan bisa gabung bersama rombongan lain. Tarif menyeberang pun lebih murah, 10.000/orang pulang pergi. Tarif ini dibayarkan nanti pada saat perahu itu balik menjemput kami di Pulau Nusakambangan. Cukup naik perahu 15 menit, kami sudah tiba di Pulau Nusakambangan. 

Apa yang terlintas di benak anda saat mendengar ‘Pulau Nusakambangan’? Penjara. Nyatanya, pulau yang identik dengan penjara untuk narapidana kelas kakap ini memiliki tempat wisata berupa benteng Karang Bolong dan goa zaman Belanda dan pantai Karang Pandan berpasir putih. Perahu menuju Pulau Nusakambangan bagian timur, yang terdapat tempat wisata tersebut. Tentu saja kami tidak melewati bagian penjaranya karena lokasi itu dijaga ketat. Kalau nggak punya kenalan/link orang dalam, akan sangat sulit untuk mengunjungi penjara tersebut.
Welcome Nusakambangan!
 Kami membeli dua buah karcis masuk Benteng Karang Bolong dan Pantai Karang Pandan dengan harga Rp.4000 per-karcis. Pemilik kapal mengingatkan kami agar mengirim SMS jika hendak kembali ke Pantai Teluk Penyu. Oke!

Untuk berjalan-jalan di Pulau Nusakambangan, diperlukan banyak energi. Banyak jalan yang mendaki, naik turun dan semua masih berupa jalan tanah, apalagi agak licin karena musim hujan. Benar-benar  seperti rute outbond atau hiking Pramuka di hutan. Selama jalan kaki melintasi rute tersebut, banyak pepohonan rindang dan semak belukar yang tumbuh di sisi kanan dan kiri. Tenang saja, tidak ada hewan buas yang sampai berada di jalanan karena habitatnya di dalam hutan. Tentu saja karena ini moment tahun baru, Pulau Nusakambangan sangat ramai oleh pengunjung. 

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Goa Naga Raja dan Goa Wirya Lodra. Untuk menuju kesana, jalannya sangat mendaki. Karena jalanan agak licin, kami harus ekstra hati-hati supaya tidak terpeleset. Nah, sampai juga deh!
Goa
 Setelah itu, kami melanjutkan jalan kaki menuju benteng. Bangunan itu tampak kurang terawat. Menurut informasi yang kami dapat, benteng ini dibangun di akhir tahun 1800-an. Wah, sudah tua sekali ya! Sekarang, hak milik benteng ini berada di tangan Angkatan Darat (Kodim) Cilacap. Setelah melihat-lihat benteng dan numpang berfoto, kami berjalan kaki lagi menuju pesisir pantai Karang Pandan yang berpasir putih. Di sekitar pantai Karang Pandan, terdapat beberapa warung yang menjajakan makanan ringan dan snack. Sesuai namanya, terdapat tumbuhan pandan di sekitar pantai. Tidak mau melewatkan moment, kami berfoto lagi deh. Hihihi...dasar narsis!

Setelah beristirahat, kami berjalan kembali ke lokasi pembelian karcis. Benar-benar jalan-jalan yang membuat keringat bercucuran. Pfiuuhh....Sambil menunggu perahu datang menjemput kami, kami mampir ke salah satu warung untuk mengisi perut. Warung-warung itu menyediakan berbagai menu makanan mulai dari lotek, kupat, pecel, minuman, snack dan gorengan. Karena kami sudah sarapan pagi, kami memilih pesan kelapa muda dan tempe mendoan khas Cilacap. Harganya sangat terjangkau dan tidak berbeda dengan harga yang bukan di tempat wisata. Kelapa muda Rp.7000 per butir dan tempe mendoan Rp.5000 untuk dua orang. Untuk urusan lunch, nanti saja deh di rumah! 
Nusakambangan: benteng Karang Bolong, Pantai Karang Pandan, Makan Mendoan+Kelapa Muda
 Menurut kami, objek wisata Pulau Nusakambangan masih perlu banyak pemugaran agar lebih asri. Baik Pulau Nusakambangan maupun Teluk Penyu adalah obyek wisata andalan Cilacap. Lebih baik lagi jika jumlah tempat sampah yang tersedia diperbanyak. Soalnya nggak enak juga nih ngeliat sampah-sampah bertebaran dimana-mana . Kan merusak pemandangan tuh:-( 

Sekitar pukul 14.00 WITA, perahu merapat di Nusakambangan untuk menjemput kami. Satu perahu itu memuat 12 orang termasuk pemilik perahunya. Menyenangkan bisa berwisata untuk menyegarkan pikiran. Walaupun pada malam harinya kaki saya terasa sakit semua. Hahaha!

Itu cerita tahun baru saya. Kalau anda, tahun baruan jalan-jalan ke mana? :-D

Menikmati Pesona Taman Nasional Komodo dan Sekitarnya

Melihat naga purba alias komodo? Ah, sudah sering tuh. Tapi cuma gambarnya doang, atau lihat di acara televisi. Nah, pada ekspedisi kali ini saya dan teman-teman seprogram berkesempatan untuk mengunjungi taman nasional komodo.Pagi itu, 27 Juni 2012, kami berangkat dari Ende menuju Labuan Bajo-Kecamatan Komodo dengan naik bus DAMRI carteran. Bus DAMRI berukuran sedang dan berkapasitas 20 penumpang ini masih baru, kursinya saja masih dilapisi plastik sehingga nyaman untuk ditumpangi.
Duduk di kursi dekat jendela, saya bisa menikmati pemandangan alam Flores yang teksturnya berbukit-bukit. Tampak jalanan berliku, jurang, tebing dan perbukitan yang menghiasi sepanjang perjalanan kami. Namun, tidak semua daratan Flores itu panas, gersang dan tandus. Ada beberapa daerah di Kabupaten Manggarai yang berkabut tebal, memiliki undakan sawah dan cuacanya dingin.
Setelah menempuh 14 jam perjalanan darat, akhirnya pukul 22.00 WITA kami tiba di Labuan Bajo. Tekstur alam yang berbukit membuat perjalanan darat di flores tidak bisa secepat menempuh perjalanan darat di Jawa. Apakah kami sudah sampai ke taman nasional komodo? Oh, belum. Kami harus beristirahat semalam di penginapan dekat dermaga Labuan Bajo. Tarif sewa per kamar adalah 50.000 IDR/malam untuk satu kamar dengan kuota dua orang. Saat saya melihat kamarnya...hmmm not bad lah. Terdapat fasilitas sebuah dipan kasur lebar dan sebuah kipas angin. Kamar mandi di luar dan airnya terbatas. Penginapan itu letaknya strategis di samping pasar ikan. Pantas saja kami dapat hiburan berupa bau ikan-ikan yang menusuk hidung. Hahaha. Karena tidak ada fasilitas makan dari penginapan, kami makan di luar dengan harga yang mahal. Misalnya: seporsi cumi ca jamur, nasi, teh hangat harganya 30.000 IDR. Nggak apa-apa deh sesekali, asal jangan keseringan...bisa bangkrut. Hehe. Cita rasanya mantap, sesuai dengan harganya. 
dua porsi cumi ca jamur, pesanan saya dan mbak ayu


1343135098191235718
Dermaga Labuan Bajo (difoto dari depan kamar penginapan lantai 2)

 Keesokan harinya, 28 Juni 2012, kami bersiap untuk menuju taman nasional komodo dan menyewa kapal motor sebagai sarana transportasi menuju rumah komodo. Kapal motor ini kapasitasnya 15-20 orang. Tidak terlalu besar, tetapi ada kamar mandinya. Ada sih kapal yang lebih bagus lagi, tapi harganya juga selangit. Jadi, kami memilih yang biasa-biasa saja. 
Berangkat naik kapal motor

indahnya pemandangan di laut
Menempuh perjalanan di lautan, kami bisa melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Hore! Tampak perbukitan dan pulau-pulau kecil yang memukau pandangan mata. Terkadang ikan-ikan bermunculan melompat ke atas permukaan laut. Suara musik yang diputar melalui handphone menambah suasana bahagia kami di atas kapal motor. Beruntung kondisi lautan bagus (ombak tidak besar) dan cuaca cerah. Setelah menempuh hampir 3 jam perjalanan laut, akhirnya kapal motor merapat ke dermaga Loh Buaya di Rinca. Dengan bersemangat, saya turun dari kapal motor dan melangkahkan kaki di sepanjang jembatan kayu menuju gerbang masuk taman nasional komodo. Seperti mimpi saja, bisa mengunjungi langsung taman nasional komodo yang selama ini saya lihat di media massa dan media elektronik.
welcome to komodo national park
Puji syukur, saya tiba juga di taman nasional komodo-Rinca.  Lokasi ini memiliki hamparan alam yang menakjubkan. Wow! Saya merasa seperti terjebak di gurun-gurun yang ada di afrika. Bagaimana tidak. Kami disuguhi pemandangan yang nampak seperti gurun savana. Indah, tetapi tandus dan gersang. Namun, pemandangan gersang itu tidak lama. Berikutnya sudah banyak pepohonan bakau yang tampak menghiasi habitat sang naga purba ini. Para bule banyak juga yang berkunjung kemari, lho. Setelah lapor diri ke petugas, datanglah pemandu (rangers) yang akan menemani trekking kami, sekaligus mengamankan kami dari kawanan komodo yang buas. Pemandu juga membawa kayu dengan panjang sekitar 2 meter yang memiliki ujung menyerupai huruf Y dan digunakan untuk menghalau komodo yang mendekat.
Gurun savana di pulau rinca
Sekilas info mengenai komodo yang saya dapat dari pemandu: Komodo (Varanus komodoensis) dapat dijumpai di Taman Nasional Komodo yang telah ditetapkan sebagai a World Heritage Site oleh UNESCO. Rangers berkata bahwa komodo aktif berjalan-jalan pada pukul 09.00-11.00 pagi dan 15.00-17.00 sore. Seekor komodo punya porsi makan yang luar biasa, yaitu seekor kambing, rusa atau kerbau. Jumlah komodo betina sangat sedikit, makanya para komodo jantan sering berkelahi untuk memperebutkan komodo betina. Para komodo betina kadang juga berkelahi untuk berebut tempat bertelur. Ada-ada saja. Saya membayangkan, pasti unik sekali berantemnya. Andai saja saya bisa melihatnya.
Komodo berkeliaran dengan bebas di habitat mereka ini. Seekor anak komodo tampak berjalan sambil menjulurkan lidahnya. Aha! Perlahan, saya mengikutinya dengan niat ingin memotretnya. Namun, tak disangka si anak komodo itu sadar kamera dan berbalik menuju arah saya. Saya terkejut dan buru-buru naik ke posko. Syukur saja, si anak komodo pergi menjauh dan memanjat pohon dengan lincah.
Saya pun turun dari posko. Di dekat kantor balai taman nasional komodo, saya melihat tengkorak rusa dan kerbau yang ditempelkan di pohon. Kata pemandu, itu adalah tengkorak hewan yang menjadi mangsa komodo. Wah. Saya menggeleng-gelengkan kepala karena takjub dengan buasnya komodo. Jangan sampai salah satu dari rombongan kami jadi mangsa berikutnya.
Tengkorak rusa dan kerbau di belakangku
Tidak jauh dari posko, terlihat seekor komodo tua berukuran sekitar 2 meter berjalan perlahan. Namun, jangan salah. Jika sedang memburu mangsa, komodo ini geraknya cepat sekali (18 km/jam). Selain itu, penciumannya tajam terhadap luka maupun bau darah. Oleh karena itu, disarankan bagi wanita yang sedang haid untuk tidak ikut trekking. 
Saya dan teman berjalan menuju dapur yang berupa rumah panggung. Di situ, terlihat 8 ekor komodo besar sedang bermalas-malasan. Kalau komodo yang besar sih nggak bisa memanjat pohon. Ranger mengatakan bahwa komodo-komodo itu suka berdiam di dekat dapur karena sering diberi makan. Selain itu, bau amis yang sering muncul dari dapur membuat mereka betah berada di sekitar dapur. Tidak mau kehilangan momen, saya mengabadikan para komodo itu dengan kamera digital. Ah, andai saja tidak berbahaya, rasanya ingin memeluk hewan berukuran 2-3 meter yang memiliki berat 90-100 kilogram itu. Berbahaya? Ya. Selain dikenal dengan sebutan hewan pemangsa, rupanya air liur komodo mengandung 60 bakteri yang mematikan. Pemandu kami bercerita, pernah suatu hari ada seorang pemandu yang terkena air liur komodo saat melindungi wisatawan yang sedang trekking. Pemandu tersebut segera dilarikan ke Denpasar untuk mendapat pengobatan sebelum berakibat fatal.


komodo sedang bermalas-malasan.

Komodoooooo
 Sekitar pukul 13.30 WITA, kami kembali ke kapal dan menyantap makan siang karena perut sudah ribut minta makan (lagi). Setelah itu, perjalanan pun berlanjut. Saya tidak memiliki keinginan untuk tidur meskipun perut sudah kenyang dan badan terasa agak lelah. Sebab, hamparan pemandangan laut yang indah sungguh sayang untuk dilewatkan! 
Kami mampir di pulau kecil bernama Pulau Kelor yang memiliki pantai dengan pasir berwarna putih. Setelah itu, kami juga sempat mampir di Pulau Bidadari yang juga memiliki pasir putih. Nah, ini dia pantai yang asyik! Sama seperti pantai di Pulau Kelor, pantai di Pulau Bidadari juga sepi dan nyaman. Lokasi ini sangat cocok untuk snorkeling karena memiliki pemandangan bawah laut yang indah. Namun, kapal tidak membawa peralatan snorkeling. Ya sudah, akhirnya kami hanya bermain air dan berfoto narsis di pulau kecil nan cantik itu. Pokoknya serasa berada di pantai milik sendiri deh! 

Pantai di pulau kelor dengan batu karangnya yang indah

pantai di pulau bidadari secantik nama pulaunya

Waktu beranjak semakin sore. Kamipun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Labuan Bajo. Beberapa teman saya ada yang tidur karena kelelahan seharian berkelana di taman nasional komodo dan sekitarnya. Saya dan Mbak Ayu masih asyik mengobrol. Di atas kapal yang berlayar, terlihat matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala. Sungguh sunset yang indah. Ditambah angin laut yang sepoi-sepoi dan tidak kencang membuat siluet senja semakin memukau. Dari atas kapal saya menikmati suasana senja dan sunset. Menikmati hembusan angin laut. Menikmati pemandangan laut. Menikmati karunia Tuhan yang tak terkira. Menikmati seluruh perjalanan ini. Kunjungan ke Pulau Kelor dan Pulau Bidadari adalah bonus seusai mengunjungi taman nasional komodo.
indahnya sunset dilihat dari atas kapal
 Malamnya, kami membeli souvenir, dinner di pinggir pantai dan bermalam di penginapan. Barulah keesokan harinya 29 Juni 2012 kami melanjutkan perjalanan pulang ke Ende. Bapak supir begitu tenang dan pintar dalam mengendalikan bus, sehingga saya tidak mabuk darat selama perjalanan. Bus terus melaju meninggalkan Labuan bajo diiringi alunan musik dangdut “iwak peyek...iwak peyek...joged asolole...” untuk menghibur (dan membuat tertawa) penumpang.
Perjalanan saya ini membuat saya semakin kagum akan keanekaragaman wisata alam di Indonesia. Apalagi kini pemerintah makin memperhatikan Taman Nasional Komodo untuk melestarikan komodo yang merupakan satwa langka. Aku merasa beruntung bisa berwisata ke rumah ora (sebutan untuk komodo dalam bahasa daerah). Taman Nasional Komodo memang pantas dijadikan salah satu keajaiban dunia. Maju terus Taman Nasional Komodo! Maju terus pariwisata Indonesia!