Kemarin ada tamu spesial yang berkunjung ke rumah. Karena pengen menjamu tamu dengan sotong, H-1 aku blusukan ke pasar buat beli sotong. Harga sotong emang lebih murah daripada cumi-cumi. ½ kg sotong harganya 10 ribu (dapat 2 ekor sotong gede). Sedangkan ¼ kg cumi-cumi di sini 9000-an. Berhubung waktunya mepet, jadinya bikin sotong cabe ijo aja :D

Untuk : 4 porsi







Jalan-jalan tidak selalu mengakibatkan ‘kerusakan dompet’ sampai ratusan ribu rupiah. Semasa masih jadi anak kuliahan, saya dan sahabat saya, Prita, nge-gembel di Solo dengan modal 45 ribu per-orang. Eit, bukan gembel dalam arti yang sebenarnya yach. Padahal berangkatnya dari Jogja naik kereta prameks, nyampe di Solo juga muter-muternya mengandalkan becak dan angkot. Nggak ada istilah belanja-belanja batik. Yang penting muter-muter mall, pasar, obyek-obyek wisata dan makan. Yes, dugem (maksudnya: duduk kayak gembel) is very fun! Bagi kami, jalan-jalan itu seperti ‘melihat dunia’.

 Hay ladies, sista, mak-mak, mbak-mbak, cewe-cewe… ! (iya. Yang disapa dalam postingan ini khusus perempuan. Hayo, yang merasa bukan perempuan minggir dulu hehehe. Piss! ). Aku mau posting tentang ikan bumbu sambal cabe merah yang dimasak buat makan malam kemarin di rumah. Kebetulan Cilacap dekat laut sih, jadi gampang beli ikan. ^,^

Bahan :
-Ikan, boleh bandeng, tongkol, patin dll. Aku pake patin kemaren (bukan patin yang penyanyi itu)
-Air perasan jeruk nipis dan asam jawa
-Laos, kupas, dipotong
-Minyak untuk menumis
-1 tangkai serai

  Semua orang pasti pernah berwisata atau sekedar jalan-jalan. Entah itu ke pantai, gunung, mall, kebun binatang, kebun bunga, kebun jengkol, atau sekedar ke warung bakso. Nah, pasti dong sobat blogger punya cerita tentang perjalanan yang tak terlupakan. Mungkin karena terpesona dengan pemandangan aduhai yang sobat kunjungi, atau malah terpesona dengan orang yang nemenin ke objek wisata itu #eh. Bisa juga menjadi sesuatu yang istimewa karena ban tiba-tiba bocor, kehujanan, dan lain-lain. Begitu juga denganku. Perjalanan plesiranku yang ini memang nggak terlupakan. 

bersiap mau berangkat
 Jadi hari itu adalah hari perpisahan para murid kelas XII di sekolah tempatku mengajar saat itu.  Acara perpisahan dirayakan dengan cara pesiar ke Pemandian Air Panas Mangerunda. Nah lho, di mana kah itu? Hmmm Tepatnya di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Flores. Nggak Cuma murid kelas XII yang ke sana, melainkan juga murid kelas X, kelas XI, bapak kepsek, para guru,  mahasiswa PPL dari Universitas Flores dan karyawan. Lah terus di bagian mana yang bikin perjalanan ini jadi spesial? Sepintas biasa aja.
Iseng ngetik keyword dengan nama sendiri ternyata berbuah manis. Google seperti mencatat sejarah kita di internet. Saya menemukan artikel saya yang dimuat di majalah online (e-magz) "The Travelist". e-magz ini linknya  http://the-travelist.com
Sebenarnya tulisan ini sudah lama sich dimuat di The Travelist. Lupa kapan pastinya. Hmmm ada sekitar setahun yang lalu.  Nggak apa-apa deh diposting di blog. Buat nambah-nambahin cerita perjalanan. Ah serasa jadi duta pariwisata yang lagi promo aja. haghaghag :-D

Majalah ini khusus memuat tulisan perjalanan wisata dan diutamakan wisata dalam negeri.
Berikut artikel saya , yang dimuat di http://the-travelist.com/index.php/pulau-rinca 

saya copas di sini deh.

Alhamdulilah rumah sudah move on dari abu vulkanik. Entah deh, tu debu nyasar sampe Cilacap segala. Sampe-sampe berasa nyuci rumah sekalian isinya huahaha *tawa miris*
Hmmm daripada ngomongin abu, mendingan ngomongin kuliner lagi ah! Sobat ada yang pernah ke daerah Kebumen, Jawa Tengah? Kalo misalnya kapan-kapan nyangkut di sana, tersesat, main, mbolang atau sekedar numpang lewat di sana, luangkan waktu sejenak untuk minta sumbangan, upsss.... sori sori, pura-pura salah ketik. Untuk KULINER sate ambal! Sebenernya di Cilacap juga ada warung makan yang khusus menjual Sate Ambal khas daerah Ambal, Kebumen ini sih. Rasanya nggak beda. Tapi lebih afdol kuliner langsung di daerah asalnya kan? Iya kan? Iyain aja deh. *maksa*
rumah terbalik
 Sambil berkeliling, saya mengamati tata ruang yang ada di dalam rumah ini. Semuanya dipasang dalam kondisi terbalik! Meja, kursi, perabotan dapur, lampu bahkan kloset duduk. Dengan pelan saya berjalan menuju dapur yang wastafelnya terbalik. Kemudian…. Prangggg!!! Suara gelas dan piring pecah terdengar nyaring. Jatuh dari tempatnya dengan sendirinya. Ketika saya melewati pinggir kloset, omaigad… kotoran jatuh keluar dari dalamnya!



 Saat main ke rumah Vida ke Gresik belum lama ini, sahabat saya itu mengajak saya untuk mencicipi kuliner khas daerahnya.  Kuliner khas Gresik, Jawa Timur adalah nasi krawu. Yap. Saya lihat banyak tempat menjual nasi krawu, mulai dari pedagang di pasar, warung hingga rumah makan. Bahkan, terkadang ada yang menjajakan masakan khas Gresik ini di pinggir jalan di Surabaya. Nama nasi krawu belum pernah saya dengar sebelumnya sehingga sukses membuat saya penasaran kayak apa sih rasanya ?


 Tadi saya bermaksud hendak merapikan foto-foto tahun 2012 ke dalam berbagai folder dan menemukan kumpulan foto unik semasa saya masih berdomisili setahun di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kali ini bukan foto obyek wisata maupun pemandangan, tetapi alat transportasi umum yang ada di sana.

foto:dokumen pribadi


Beberapa kawan merasa perjalanan kami kurang mantap karena tidak jadi main air di Pantai Goa Cina. Kawan-kawan berbincang-bincang di dalam minibus tentang obyek wisata yang mungkin bisa disinggahi sambil perjalanan pulang. Ada yang menyarankan ke air terjun Cuban Pelangi, tetapi sisa waktu tidak cukup dan mengingat kami tidak merencakan untuk menginap. Mbak Winda dan Mbak Epri menyarankan ke wisata religi bernama Masjid Tiban di daerah Turen, Kabupaten Malang. Setelah menanyakan lokasi pada Pak Sopir, ternyata lokasi masjid tersebut mudah dijangkau searah dengan rute yang ditempuh menuju Surabaya. Beberapa kawan seperti Mbak Aya, Mbak Epri, Mbak Winda mulai tertidur dalam perjalanan lanjutan.


Saya kembali mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke Malang. Kali ini bersama rombongan kawan-kawan di lokasi tempat saya praktik mengajar di Surabaya. Total ada 15 orang yang ikut dalam rombongan ini. Rombongan berasal dari berbagai program studi dan satu lokasi sekolah tempat praktik mengajar dan penelitian tindakan kelas. Jumlah yang banyak membuat kami memilih menyewa kendaraan minibus dari Surabaya.

Di area makam Bung Karno ada ukiran seperti ini di dinding.
 Peta Indonesia, tulisan proklamasi dan pahatan. Keren.


Apa yang pertama kali terlintas di benak kita saat mendengar kata “penjara”?
Sebuah tempat pembinaan untuk narapidana yang perbuatannya melanggar hukum.  Lebih tepat dan ‘halus’ jika saya katakan Lembaga Permasyarakatan (disingkat Lapas atau LP) saja ya, readers :-)  

Rombongan berkesempatan ke LaPas Anak kelas II A Blitar, Jawa Timur dalam sebuah acara kunjungan belajar (study tour) yang disepakati oleh dosen ketua jurusan pada bulan Juni 2013 lalu. Wah...udah setengah tahun yang lalu ya. Saat itu bertepatan dengan berakhirnya workshop Pendidikan Profesi Guru semester ganjil.  Rombongan berangkat dari Surabaya pukul 05.30 WIB dari Surabaya. Dosen-dosen pendamping kami lebih on time dan sudah menunggu di bus sebelum jam pemberangkatan. Salut untuk Bapak dan Ibu dosen!