Indonesia
adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam dan kebudayaan yang melekat di
setiap daerahnya. Setiap daerah memiliki kearifan budaya yang menjadikannya
unik. Salah satunya adalah budaya masyarakat Kabupaten Ende, Flores, Nusa
Tenggara Timur. Saya sangat beruntung pernah diberikan kesempatan tinggal di
sini selama setahun untuk mencicipi nuansa Ende, menikmati budayanya dan
melihat kearifan lokal masyarakatnya dari jarak dekat.
Berbicara
tentang sosok guru, banyak kenangan indah yang masih melekat di benak
saya. Ingatan tentang Bapak-Ibu guru
saat saya masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Ketelatenan mereka
dalam menerangkan materi, kesabaran mereka saat membimbing saya lomba bidang
studi, hingga semangat mereka saat memotivasi murid-muridnya . Bagi saya, guru
merupakan sebuah profesi panggilan hati.
Akhirnya saya
bisa merasakan berada dalam posisi menjadi seorang guru. Semua berawal saat
saya menamatkan bangku kuliah S1 tahun 2011 dan memutuskan mengikuti SM-3T
angkatan I. Program ini diadakan oleh DIKTI KEMENDIKBUD yang bertujuan untuk
membantu mengatasi kekurangan guru di daerah Terluar, Tertinggal dan Terdepan
(3T) sekaligus menyiapkan calon guru profesional yang memiliki jiwa untuk mencerdaskan anak bangsa, mandiri,
tangguh dan peduli terhadap sesama.
Selama satu
tahun, peserta akan ditugaskan untuk berpartisipasi sebagai pendidik di daerah
3T. Tugas peserta tidak hanya menjadi
guru yang mengajar di sekolah, melainkan juga menjalankan tugas sosial
kemasyarakatan. Setelah setahun, penugasan akan dilanjutkan oleh peserta
angkatan berikutnya. Saya mendapatkan daerah penempatan di Kabupaten Ende, Nusa
Tenggara Timur untuk masa penugasan selama setahun mulai dari bulan Desember
2011.
| Perjalanan dari Kota Ende menuju Nangapanda, lokasi penugasan saya |
| Saya di lokasi penempatan |
Untuk menuju lokasi penempatan, saya cukup
menggunakan oto (bemo) dari kota Ende selama 1,5 jam saja. Bemo ini beroperasi
lancar setiap hari dari pagi hingga maghrib. Kontur jalanan dari kota Ende
menuju lokasi penempatan terbilang mudah ditempuh. Jalannya halus dan beraspal,
tetapi berliku, serta dihiasi tebing, jurang dan pantai di sisinya.
Senin, 07 Mei 2018
“Sesungguhnya setiap orang di antaramu
dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berupa nutfah,
kemudian menjadi segumpal darah, (empat puluh hari kemudian), kemudian menjadi
segumpal daging selama itu pula (40 hari berikutnya). Kemudian diutuslah
kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya
menuliskan empat hal; ketentuan rejekinya, ketentuan ajalnya, ketentuan
amalnya, dan ketentuan celaka atau bahagianya …” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Pada Bulan April lalu, janinku berusia 4
bulan. Masa di mana ruhnya telah ditiupkan, serta digariskan takdirnya.
Rangkaian doa aku rapal untuk kebaikan ia di masa depannya. Kami nggak bisa
jadi orang tua yang sempurna. Namun, kami bisa mengusahakan yang terbaik.
Sementara di rumah Cilacap, orang tuaku juga mengadakan pengajian kecil buat
mendoakan keselamatan janinku. Seremoni sederhana, hanya mengundang tetangga
kiri-kanan dan pondok pesantren anak yatim piatu.
Langganan:
Postingan (Atom)

