Soto Sokaraja, Sajian Soto Khas Banyumas


Soto, sebuah hidangan berkuah asli Indonesia, bisa disajikan dengan berbagai bumbu yang beragam. Sehingga tak jarang banyak daerah di Indonesia yang memiliki soto khas masing-masing. Jika anda berkunjung ke ‘area wong ngapak’ alias daerah Banyumas dan sekitarnya (Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga dan Cilacap), jangan lupa untuk bertandang ke warung mencicipi sajian Soto Sokaraja. Bagi yang udah pernah nyicipin dan bagi yang berdomisili di area wong ngapak, pasti paham banget sama soto ini.

Yap. Keunikan soto sokaraja ini terletak pada penambahan kupat atau lontong pada sotonya.  Makin gurih jika dalam pembuatan kuah kaldunya ditambahkan santan encer . Ketika dihidangkan, kuahnya dicampur sambal kacang yang perpaduan rasanya menggoyang lidah. Pedas, manis dan segar.  . Di akhir penyajian, ditambahkan kerupuk warna-warni. Perpaduan yang mantap antara kuah, sambal kacang, tauge, daging sapi, siap disantap hangat. Wah, makin meriah saja nih!

Untuk membuatnya nggak susah kok. Anda bisa mencoba mempraktikkan sendiri di rumah. Jadi kalau sedang berada di luar area Banyumas dan sekitarnya lalu tertarik ingin mencoba, bikin sendiri saja! Belum lama ini saya membuat sendiri Soto Sokaraja di rumah. Yach...sambil mengisi waktu luang ketika rumah sepi...orang rumah pada ngantor. Waktu itu sempat bingung karena di kulkas nggak ada daging sapi! Wah...mana nggak bisa ke pasar lagi, kendaraan terpakai semua. Untunglah saya menemukan sebungkus daging sapi di warung dekat rumah. Fiuhh... 

Berikut resepnya. Anda bisa berkreasi menambah-kurangi bumbu kalau kurang pas. Kalau kuah kurang gurih, bisa ditambahkan penyedap rasa.
Catatan: Saya menambahkan daging ayam yang disuwir, nggak ditambahin kedelai goreng dalam penyajiannya nggak pake kupat lontong (pake nasi terpisah soalnya udah terlanjur masak nasi) dan pake kerupuk putih.

Resep ala Ina ini telah diujicoba di Dapur Ina. Itung-itung sekalian mempromosikan sajian khas daerah sendiri. Hohoho. Stay tune, pemirsa! Ini dia....

Soto Sokaraja

Untuk : 5 porsi

Bahan:
bahan dan bumbu halus yg telah ditumis

800 ml air
200 ml santan encer
Sandung lamur, tetelan atau daging sapi
70 gr soun
70 gr tauge (cambahnya kacang ijo)
2 cm jahe, memarkan.
1 tangkai serai, memarkan
3 sdm kecap manis
Lengkuas, memarkan
2 lembar daun salam
Daun seledri



Bumbu (Haluskan kemudian tumis)
4 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 cm kunyit, bakar
3 butir kemiri, sangrai
1 sdt garam
Merica, Ketumbar, pala

Bahan pelengkap untuk penyajian:
Irisan loncang, bawang goreng, daging ayam yang telah disuwir, kerupuk goreng.

Bumbu sambal kacang
Goreng 150 gram kacang tanah. Haluskan bersama 3 cabe rawit merah, 3 siung bawang merah, 2 siung bawang putih, garam, 1 sdm gula merah dan 1 sdm air asam.

Cara Membuat:
1.Rebus daging setengah matang untuk kaldu.
2.Masukkan santan encer, bumbu halus yang telah ditumis ke dalam kuah kaldu. Tambahkan jahe, daun seledri, serai, kecap manis, lengkuas dan daun salam.
3.Biarkan hingga matang.
belum dikasih kuah

4. Racik mie soun, tauge, irisan loncang, bumbu sambal kacang dan suwiran daging ayam ke dalam mangkok. Tambahkan kuah kaldu. Taburi bawang goreng dan kerupuk.
5. Sajikan hangat.
Selesai! Siap disantap.

Tertarik? Selamat Mencoba!

Dari Pantai Teluk Penyu ke Pulau Nusakambangan



Beberapa kali membuat postingan saat berwisata di daerah perantauan, rasanya kurang komplit kalau saya belum menulis tentang wisata di daerah sendiri. Cilacap, daerah tempat saya berdomisili untuk saat ini. Sambil menyimak tulisan, mari siapin cemilan masing-masing. *nyengir*

Pantai Teluk Penyu adalah sebuah pantai yang paling terkenal di Cilacap, sebuah wilayah di Jawa Tengah yang letaknya di pesisir selatan. Jadi, Pantai Teluk Penyu ini langsung berhadapan dengan Samudera Hindia.  Katanya sih, dulu di sini banyak penyu. Namun, sekarang sudah nggak lagi. Pantai ini ramai pengunjung, terlebih kalau hari minggu. Ada ibu-ibu senam, ada murid-murid sekolahan yang lari pagi dan masyarakat yang sekedar jalan-jalan. 

Saya kembali mengunjungi pantai ini pada 1 Januari 2013. Lokasinya nggak jauh dari rumah. Hanya memakan waktu 10-15 menit kalau ditempuh dengan kendaraan pribadi. Kalau jalan kaki? Hahaha itu lain lagi! Karena bertepatan dengan moment tahun baru, pengunjung pantai jumlahnya 2 kali lipat dibanding hari biasa. Cuaca yang mendung nggak menghalangi orang-orang yang pada hari itu memadati pantai Teluk Penyu.  Terlihat banyak orang yang sedang ber-banana boat ria.
suasana Pantai Teluk Penyu kala Tahun Baru 2013

Pantai ini berpasir hitam dan memiliki ombak yang besar. Memasuki kawasan pantai, terdapat jalan beraspal sejauh 4-5  kilometer yang mengikuti kontur pinggir pantai. Terdapat juga banyak lesehan ikan bakar dan seafood, warung-warung yang menjual ikan mentah dan hasil laut lainnya. Mau cari aksesoris? Kios-kios yang menjajakan aneka souvenir khas siap menjawab keinginan anda. Ada tirai kerang, hiasan dari kerang, gelang, cincin, dan lain-lain.
Gambar trekdam diambil dari sini

Yang unik dari pantai ini, setiap tanggal 1 syuro, ada tradisi sedekah laut sebagai wujud rasa syukur. Sesaji-sesaji yang telah disiapkan akan dihanyutkan ke laut. Nelayan beramai-ramai melaksanakan ritual yang dilestarikan sejak turun-temurun ini. Keunikan lainnya, di sepanjang pinggir pantai terdapat banyak trekdam. Semacam jembatan puluhan meter yang menjorok  ke lautan. Kita bisa menikmati sensasi seperti berjalan di atas laut saat menelusuri trekdam itu. Di sekitar pantai juga terdapat banyak gazebo untuk duduk-duduk menikmati pemandangan laut. Ada juga Beteng Pendem yang berlokasi di kawasan Pantai Teluk Penyu. Kapan-kapan akan saya buat dalam postingan tersendiri.

Saat kami tiba di pantai Teluk Penyu, hujan sempat turun. Untung tidak lama kemudian reda. Seorang nelayan pemilik perahu menawari kami untuk berwisata ke Pulau Nusakambangan beserta rombongan lain yang telah berada di atas kapal. Wah kebetulan! Karena kami cuma berdua dan bisa gabung bersama rombongan lain. Tarif menyeberang pun lebih murah, 10.000/orang pulang pergi. Tarif ini dibayarkan nanti pada saat perahu itu balik menjemput kami di Pulau Nusakambangan. Cukup naik perahu 15 menit, kami sudah tiba di Pulau Nusakambangan. 

Apa yang terlintas di benak anda saat mendengar ‘Pulau Nusakambangan’? Penjara. Nyatanya, pulau yang identik dengan penjara untuk narapidana kelas kakap ini memiliki tempat wisata berupa benteng Karang Bolong dan goa zaman Belanda dan pantai Karang Pandan berpasir putih. Perahu menuju Pulau Nusakambangan bagian timur, yang terdapat tempat wisata tersebut. Tentu saja kami tidak melewati bagian penjaranya karena lokasi itu dijaga ketat. Kalau nggak punya kenalan/link orang dalam, akan sangat sulit untuk mengunjungi penjara tersebut.
Welcome Nusakambangan!
 Kami membeli dua buah karcis masuk Benteng Karang Bolong dan Pantai Karang Pandan dengan harga Rp.4000 per-karcis. Pemilik kapal mengingatkan kami agar mengirim SMS jika hendak kembali ke Pantai Teluk Penyu. Oke!

Untuk berjalan-jalan di Pulau Nusakambangan, diperlukan banyak energi. Banyak jalan yang mendaki, naik turun dan semua masih berupa jalan tanah, apalagi agak licin karena musim hujan. Benar-benar  seperti rute outbond atau hiking Pramuka di hutan. Selama jalan kaki melintasi rute tersebut, banyak pepohonan rindang dan semak belukar yang tumbuh di sisi kanan dan kiri. Tenang saja, tidak ada hewan buas yang sampai berada di jalanan karena habitatnya di dalam hutan. Tentu saja karena ini moment tahun baru, Pulau Nusakambangan sangat ramai oleh pengunjung. 

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Goa Naga Raja dan Goa Wirya Lodra. Untuk menuju kesana, jalannya sangat mendaki. Karena jalanan agak licin, kami harus ekstra hati-hati supaya tidak terpeleset. Nah, sampai juga deh!
Goa
 Setelah itu, kami melanjutkan jalan kaki menuju benteng. Bangunan itu tampak kurang terawat. Menurut informasi yang kami dapat, benteng ini dibangun di akhir tahun 1800-an. Wah, sudah tua sekali ya! Sekarang, hak milik benteng ini berada di tangan Angkatan Darat (Kodim) Cilacap. Setelah melihat-lihat benteng dan numpang berfoto, kami berjalan kaki lagi menuju pesisir pantai Karang Pandan yang berpasir putih. Di sekitar pantai Karang Pandan, terdapat beberapa warung yang menjajakan makanan ringan dan snack. Sesuai namanya, terdapat tumbuhan pandan di sekitar pantai. Tidak mau melewatkan moment, kami berfoto lagi deh. Hihihi...dasar narsis!

Setelah beristirahat, kami berjalan kembali ke lokasi pembelian karcis. Benar-benar jalan-jalan yang membuat keringat bercucuran. Pfiuuhh....Sambil menunggu perahu datang menjemput kami, kami mampir ke salah satu warung untuk mengisi perut. Warung-warung itu menyediakan berbagai menu makanan mulai dari lotek, kupat, pecel, minuman, snack dan gorengan. Karena kami sudah sarapan pagi, kami memilih pesan kelapa muda dan tempe mendoan khas Cilacap. Harganya sangat terjangkau dan tidak berbeda dengan harga yang bukan di tempat wisata. Kelapa muda Rp.7000 per butir dan tempe mendoan Rp.5000 untuk dua orang. Untuk urusan lunch, nanti saja deh di rumah! 
Nusakambangan: benteng Karang Bolong, Pantai Karang Pandan, Makan Mendoan+Kelapa Muda
 Menurut kami, objek wisata Pulau Nusakambangan masih perlu banyak pemugaran agar lebih asri. Baik Pulau Nusakambangan maupun Teluk Penyu adalah obyek wisata andalan Cilacap. Lebih baik lagi jika jumlah tempat sampah yang tersedia diperbanyak. Soalnya nggak enak juga nih ngeliat sampah-sampah bertebaran dimana-mana . Kan merusak pemandangan tuh:-( 

Sekitar pukul 14.00 WITA, perahu merapat di Nusakambangan untuk menjemput kami. Satu perahu itu memuat 12 orang termasuk pemilik perahunya. Menyenangkan bisa berwisata untuk menyegarkan pikiran. Walaupun pada malam harinya kaki saya terasa sakit semua. Hahaha!

Itu cerita tahun baru saya. Kalau anda, tahun baruan jalan-jalan ke mana? :-D

Kuliner Tegal : Sate dan Sop Kambing Balibul


Foto: Ina

Ragam olahan sate kambing dapat disajikan menjadi berbagai jenis masakan khas nusantara. Di Tegal, daging kambing juga memberikan suguhan sate kambing dan sop kambing yang memiliki cita rasa berbeda dengan daerah lainnya. Ketika Anda pergi ke Tegal, anda akan menemukan warung sate dan sop kambing khas Tegal yang bertaburan di seluruh penjuru daerah ini.  Daging kambing yang digunakan adalah daging kambing berusia di bawah lima bulan (balibul), bahkan banyak yang usianya masih di bawah tiga bulan (batibul).  Ya. Inilah santapan yang terkenal di Tegal, Jawa Tengah.
Kali ini, saya bareng bulik mengunjungi warung sate dan sop kambing balibul yang berlokasi di belakang PLN Slawi-Kabupaten Tegal. Nggak lama setelah memesan, menu pesanan kami datang. Nah ini dia, sate kambing dan sop kambing khas Tegal. Disajikan dengan bumbu sambal kecap serta tambahan irisan tomat dan bawang.  Satenya terasa sangat empuk dan gurih.  Kombinasi bumbu rempah yang digunakan dalam sop kambing juga terasa pas, tidak terlalu kental, menjadikan sop terasa meresap di lidah dan nikmat disantap panas-panas. Daging kambing yang digunakan untuk sop adalah bagian iga dan dekat tulang lunak. Kami juga memesan minuman teh khas tegal, yaitu Teh Poci. Aromanya dan rasanya segar dengan wangi teh yang alami menyempurnakan selera kuliner. Memang, selalu ada yang berbeda dari sajian daging kambing di berbagai daerah, termasuk Tegal. Walaupun mungkin hanya modifikasi dan takaran bumbunya yang berbeda. Namun, kreasi bumbu ini tentu memperkaya keanekaragaman kuliner di nusantara.

Mari makan! 


Price:
2 porsi sate kambing + 2 gelas teh poci + 2 porssi nasi + 1 porsi sop kambing = Rp.66.000
Ditraktir bulik. hehehe 
Lokasi : Dekat PLN Slawi, Tegal, Jawa Tengah

Menjalani Ramadhan di Perantauan

Bulan ramadhan 2012 ini full saya jalani di tanah perantauan. Tentu nuansanya sangat berbeda dibanding ramadhan yang sudah-sudah.
Nggak ada istilah beli makanan sahur, buka di masjid, masak bareng ibuk, buber nongkrong keren halah gak ada. Kali ini, temanya kebersamaan dalam kesederhanaan. Masak bareng temen sekos. Oya, sekedar info, di sini masih menggunakan kompor minyak lho...karena harga minyak tanah murah meriah... 3500 rupiah per liter...
Alhamdulilah kos kedua saya ini dekat dengan musolla. Sehingga saya dan teman-teman kos nggak kesulitan untuk menjalankan ibadah shalat tarawih :-) cukup jalan kaki beberapa meter saja.
Oya di sekolahan juga ada acara sehari untuk yang beragama muslim. Pesantren kilat dan buka puasa bersama. Hal ini menunjukkan tingginya toleransi beragama di sekolahku. Bahkan, kepala sekolah turut hadir ssekedar memberi sambutan saja. Selebihnya, acara diikuti siswa-siswa muslim dan guru. Yang masak bubur kacang ijo untuk buka puasa adalah guru wanita yang beragama non muslim (dibantu beberapa siswa non muslim). Tuh kan...toleransinya begitu tinggi. Menu buka puasanya itu tuh... yang foto...sebelah kanan pojok bawah.. hmmm ada bubur kacang ijonya juga :-)
Dan setelah sekian tahun nggak ikut upacara 17 Agustus, tahun ini saya , Mbak Feri dan Mas Bangkit upacara 17 agustus di lapangan pu'ukungu di kecamatan kami. 

Menikmati Pesona Taman Nasional Komodo dan Sekitarnya

Melihat naga purba alias komodo? Ah, sudah sering tuh. Tapi cuma gambarnya doang, atau lihat di acara televisi. Nah, pada ekspedisi kali ini saya dan teman-teman seprogram berkesempatan untuk mengunjungi taman nasional komodo.Pagi itu, 27 Juni 2012, kami berangkat dari Ende menuju Labuan Bajo-Kecamatan Komodo dengan naik bus DAMRI carteran. Bus DAMRI berukuran sedang dan berkapasitas 20 penumpang ini masih baru, kursinya saja masih dilapisi plastik sehingga nyaman untuk ditumpangi.
Duduk di kursi dekat jendela, saya bisa menikmati pemandangan alam Flores yang teksturnya berbukit-bukit. Tampak jalanan berliku, jurang, tebing dan perbukitan yang menghiasi sepanjang perjalanan kami. Namun, tidak semua daratan Flores itu panas, gersang dan tandus. Ada beberapa daerah di Kabupaten Manggarai yang berkabut tebal, memiliki undakan sawah dan cuacanya dingin.
Setelah menempuh 14 jam perjalanan darat, akhirnya pukul 22.00 WITA kami tiba di Labuan Bajo. Tekstur alam yang berbukit membuat perjalanan darat di flores tidak bisa secepat menempuh perjalanan darat di Jawa. Apakah kami sudah sampai ke taman nasional komodo? Oh, belum. Kami harus beristirahat semalam di penginapan dekat dermaga Labuan Bajo. Tarif sewa per kamar adalah 50.000 IDR/malam untuk satu kamar dengan kuota dua orang. Saat saya melihat kamarnya...hmmm not bad lah. Terdapat fasilitas sebuah dipan kasur lebar dan sebuah kipas angin. Kamar mandi di luar dan airnya terbatas. Penginapan itu letaknya strategis di samping pasar ikan. Pantas saja kami dapat hiburan berupa bau ikan-ikan yang menusuk hidung. Hahaha. Karena tidak ada fasilitas makan dari penginapan, kami makan di luar dengan harga yang mahal. Misalnya: seporsi cumi ca jamur, nasi, teh hangat harganya 30.000 IDR. Nggak apa-apa deh sesekali, asal jangan keseringan...bisa bangkrut. Hehe. Cita rasanya mantap, sesuai dengan harganya. 
dua porsi cumi ca jamur, pesanan saya dan mbak ayu


1343135098191235718
Dermaga Labuan Bajo (difoto dari depan kamar penginapan lantai 2)

 Keesokan harinya, 28 Juni 2012, kami bersiap untuk menuju taman nasional komodo dan menyewa kapal motor sebagai sarana transportasi menuju rumah komodo. Kapal motor ini kapasitasnya 15-20 orang. Tidak terlalu besar, tetapi ada kamar mandinya. Ada sih kapal yang lebih bagus lagi, tapi harganya juga selangit. Jadi, kami memilih yang biasa-biasa saja. 
Berangkat naik kapal motor

indahnya pemandangan di laut
Menempuh perjalanan di lautan, kami bisa melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Hore! Tampak perbukitan dan pulau-pulau kecil yang memukau pandangan mata. Terkadang ikan-ikan bermunculan melompat ke atas permukaan laut. Suara musik yang diputar melalui handphone menambah suasana bahagia kami di atas kapal motor. Beruntung kondisi lautan bagus (ombak tidak besar) dan cuaca cerah. Setelah menempuh hampir 3 jam perjalanan laut, akhirnya kapal motor merapat ke dermaga Loh Buaya di Rinca. Dengan bersemangat, saya turun dari kapal motor dan melangkahkan kaki di sepanjang jembatan kayu menuju gerbang masuk taman nasional komodo. Seperti mimpi saja, bisa mengunjungi langsung taman nasional komodo yang selama ini saya lihat di media massa dan media elektronik.
welcome to komodo national park
Puji syukur, saya tiba juga di taman nasional komodo-Rinca.  Lokasi ini memiliki hamparan alam yang menakjubkan. Wow! Saya merasa seperti terjebak di gurun-gurun yang ada di afrika. Bagaimana tidak. Kami disuguhi pemandangan yang nampak seperti gurun savana. Indah, tetapi tandus dan gersang. Namun, pemandangan gersang itu tidak lama. Berikutnya sudah banyak pepohonan bakau yang tampak menghiasi habitat sang naga purba ini. Para bule banyak juga yang berkunjung kemari, lho. Setelah lapor diri ke petugas, datanglah pemandu (rangers) yang akan menemani trekking kami, sekaligus mengamankan kami dari kawanan komodo yang buas. Pemandu juga membawa kayu dengan panjang sekitar 2 meter yang memiliki ujung menyerupai huruf Y dan digunakan untuk menghalau komodo yang mendekat.
Gurun savana di pulau rinca
Sekilas info mengenai komodo yang saya dapat dari pemandu: Komodo (Varanus komodoensis) dapat dijumpai di Taman Nasional Komodo yang telah ditetapkan sebagai a World Heritage Site oleh UNESCO. Rangers berkata bahwa komodo aktif berjalan-jalan pada pukul 09.00-11.00 pagi dan 15.00-17.00 sore. Seekor komodo punya porsi makan yang luar biasa, yaitu seekor kambing, rusa atau kerbau. Jumlah komodo betina sangat sedikit, makanya para komodo jantan sering berkelahi untuk memperebutkan komodo betina. Para komodo betina kadang juga berkelahi untuk berebut tempat bertelur. Ada-ada saja. Saya membayangkan, pasti unik sekali berantemnya. Andai saja saya bisa melihatnya.
Komodo berkeliaran dengan bebas di habitat mereka ini. Seekor anak komodo tampak berjalan sambil menjulurkan lidahnya. Aha! Perlahan, saya mengikutinya dengan niat ingin memotretnya. Namun, tak disangka si anak komodo itu sadar kamera dan berbalik menuju arah saya. Saya terkejut dan buru-buru naik ke posko. Syukur saja, si anak komodo pergi menjauh dan memanjat pohon dengan lincah.
Saya pun turun dari posko. Di dekat kantor balai taman nasional komodo, saya melihat tengkorak rusa dan kerbau yang ditempelkan di pohon. Kata pemandu, itu adalah tengkorak hewan yang menjadi mangsa komodo. Wah. Saya menggeleng-gelengkan kepala karena takjub dengan buasnya komodo. Jangan sampai salah satu dari rombongan kami jadi mangsa berikutnya.
Tengkorak rusa dan kerbau di belakangku
Tidak jauh dari posko, terlihat seekor komodo tua berukuran sekitar 2 meter berjalan perlahan. Namun, jangan salah. Jika sedang memburu mangsa, komodo ini geraknya cepat sekali (18 km/jam). Selain itu, penciumannya tajam terhadap luka maupun bau darah. Oleh karena itu, disarankan bagi wanita yang sedang haid untuk tidak ikut trekking. 
Saya dan teman berjalan menuju dapur yang berupa rumah panggung. Di situ, terlihat 8 ekor komodo besar sedang bermalas-malasan. Kalau komodo yang besar sih nggak bisa memanjat pohon. Ranger mengatakan bahwa komodo-komodo itu suka berdiam di dekat dapur karena sering diberi makan. Selain itu, bau amis yang sering muncul dari dapur membuat mereka betah berada di sekitar dapur. Tidak mau kehilangan momen, saya mengabadikan para komodo itu dengan kamera digital. Ah, andai saja tidak berbahaya, rasanya ingin memeluk hewan berukuran 2-3 meter yang memiliki berat 90-100 kilogram itu. Berbahaya? Ya. Selain dikenal dengan sebutan hewan pemangsa, rupanya air liur komodo mengandung 60 bakteri yang mematikan. Pemandu kami bercerita, pernah suatu hari ada seorang pemandu yang terkena air liur komodo saat melindungi wisatawan yang sedang trekking. Pemandu tersebut segera dilarikan ke Denpasar untuk mendapat pengobatan sebelum berakibat fatal.


komodo sedang bermalas-malasan.

Komodoooooo
 Sekitar pukul 13.30 WITA, kami kembali ke kapal dan menyantap makan siang karena perut sudah ribut minta makan (lagi). Setelah itu, perjalanan pun berlanjut. Saya tidak memiliki keinginan untuk tidur meskipun perut sudah kenyang dan badan terasa agak lelah. Sebab, hamparan pemandangan laut yang indah sungguh sayang untuk dilewatkan! 
Kami mampir di pulau kecil bernama Pulau Kelor yang memiliki pantai dengan pasir berwarna putih. Setelah itu, kami juga sempat mampir di Pulau Bidadari yang juga memiliki pasir putih. Nah, ini dia pantai yang asyik! Sama seperti pantai di Pulau Kelor, pantai di Pulau Bidadari juga sepi dan nyaman. Lokasi ini sangat cocok untuk snorkeling karena memiliki pemandangan bawah laut yang indah. Namun, kapal tidak membawa peralatan snorkeling. Ya sudah, akhirnya kami hanya bermain air dan berfoto narsis di pulau kecil nan cantik itu. Pokoknya serasa berada di pantai milik sendiri deh! 

Pantai di pulau kelor dengan batu karangnya yang indah

pantai di pulau bidadari secantik nama pulaunya

Waktu beranjak semakin sore. Kamipun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Labuan Bajo. Beberapa teman saya ada yang tidur karena kelelahan seharian berkelana di taman nasional komodo dan sekitarnya. Saya dan Mbak Ayu masih asyik mengobrol. Di atas kapal yang berlayar, terlihat matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala. Sungguh sunset yang indah. Ditambah angin laut yang sepoi-sepoi dan tidak kencang membuat siluet senja semakin memukau. Dari atas kapal saya menikmati suasana senja dan sunset. Menikmati hembusan angin laut. Menikmati pemandangan laut. Menikmati karunia Tuhan yang tak terkira. Menikmati seluruh perjalanan ini. Kunjungan ke Pulau Kelor dan Pulau Bidadari adalah bonus seusai mengunjungi taman nasional komodo.
indahnya sunset dilihat dari atas kapal
 Malamnya, kami membeli souvenir, dinner di pinggir pantai dan bermalam di penginapan. Barulah keesokan harinya 29 Juni 2012 kami melanjutkan perjalanan pulang ke Ende. Bapak supir begitu tenang dan pintar dalam mengendalikan bus, sehingga saya tidak mabuk darat selama perjalanan. Bus terus melaju meninggalkan Labuan bajo diiringi alunan musik dangdut “iwak peyek...iwak peyek...joged asolole...” untuk menghibur (dan membuat tertawa) penumpang.
Perjalanan saya ini membuat saya semakin kagum akan keanekaragaman wisata alam di Indonesia. Apalagi kini pemerintah makin memperhatikan Taman Nasional Komodo untuk melestarikan komodo yang merupakan satwa langka. Aku merasa beruntung bisa berwisata ke rumah ora (sebutan untuk komodo dalam bahasa daerah). Taman Nasional Komodo memang pantas dijadikan salah satu keajaiban dunia. Maju terus Taman Nasional Komodo! Maju terus pariwisata Indonesia!