Tampilkan postingan dengan label Tulisan Menang. Tampilkan semua postingan

Kuliner di Waroeng Mee, Tempat Nongkrong Asyik di Jakarta Pusat

Waroeng Mee, tempat kuliner enak di Jakarta


 Yang terlintas di pikiran saya saat pertama kali mendengar nama “Waroeng Mee” adalah semacam tempat nongkrong Jakarta yang menu makanannya didominasi oleh mie. Ternyata tebakan saya cukup meleset. Memang sih, banyak inovasi menu di sini yang terbuat dari bahan dasar indomie. Namun, menunya ngga hanya mie. Banyak sekali menu-menu selain mie mulai dari cemilan dan kue yang ringan-ringan hingga menu yang bikin kenyang.

Keliling Pantai Pasir Putih dan Pulau-pulau Mini dengan Modal 100 Ribu


Jalan-jalan tidak selalu mengakibatkan ‘kerusakan dompet’ sampai ratusan ribu rupiah. Semasa masih jadi anak kuliahan, saya dan sahabat saya, Prita, nge-gembel di Solo dengan modal 45 ribu per-orang. Eit, bukan gembel dalam arti yang sebenarnya yach. Padahal berangkatnya dari Jogja naik kereta prameks, nyampe di Solo juga muter-muternya mengandalkan becak dan angkot. Nggak ada istilah belanja-belanja batik. Yang penting muter-muter mall, pasar, obyek-obyek wisata dan makan. Yes, dugem (maksudnya: duduk kayak gembel) is very fun! Bagi kami, jalan-jalan itu seperti ‘melihat dunia’.

Menyambangi Sang Naga Raksasa di Pulau Rinca [dimuat di The Travelist, e-magz online]

Iseng ngetik keyword dengan nama sendiri ternyata berbuah manis. Google seperti mencatat sejarah kita di internet. Saya menemukan artikel saya yang dimuat di majalah online (e-magz) "The Travelist". e-magz ini linknya  http://the-travelist.com
Sebenarnya tulisan ini sudah lama sich dimuat di The Travelist. Lupa kapan pastinya. Hmmm ada sekitar setahun yang lalu.  Nggak apa-apa deh diposting di blog. Buat nambah-nambahin cerita perjalanan. Ah serasa jadi duta pariwisata yang lagi promo aja. haghaghag :-D

Majalah ini khusus memuat tulisan perjalanan wisata dan diutamakan wisata dalam negeri.
Berikut artikel saya , yang dimuat di http://the-travelist.com/index.php/pulau-rinca 

saya copas di sini deh.

Tetap Eksis di Daerah 3T dengan Blackberry dan simPATI

Tahun lalu, saya menjalankan pengabdian mengajar setahun di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal). Saya mendapatkan daerah penempatan di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.  Hal yang pertama kali ditakutkan oleh Ibu saya adalah :
“Bagaimana kalau nantinya kami lost contact dengan kamu?”
Kekhawatiran yang wajar dari seorang Ibu. Bayangan bahwa nantinya di sana anaknya mengalami kendala besar dalam berkomunikasi dengan keluarga di rumah. Jika ada kendala dalam komunikasi, tentunya saya akan kesulitan mengabarkan kondisi saya kepada keluarga di rumah. Atau yang lebih parah lagi, harus berjalan kaki sekian kilometer untuk mendapatkan segaris penyelamat bernama sinyal seluler. Mungkin juga Ibu takut anaknya lenyap di daerah 3T. Hwahahahah. Kalau saya sendiri sih sudah rela dan mempersiapkan mental jika sampai terisolir karena sulit sinyal. Toh, hanya setahun.
Lalu, apa yang terjadi? Yuk, #BacaCeritaku !