Saya kembali mendapatkan kesempatan
jalan-jalan ke Malang. Kali ini bersama rombongan kawan-kawan di lokasi tempat
saya praktik mengajar di Surabaya. Total ada 15 orang yang ikut dalam rombongan
ini. Rombongan berasal dari berbagai program studi dan satu lokasi sekolah
tempat praktik mengajar dan penelitian tindakan kelas. Jumlah yang banyak
membuat kami memilih menyewa kendaraan minibus dari Surabaya.
Terpikat Foto Pantai di Malang Selatan (Jalan Bareng Kawan PPL-PPG # Bagian 1)
Rabu, 29 Januari 2014
Study Tour ke LaPas Anak Kelas IIA Blitar dan Makam Bung Karno
Minggu, 19 Januari 2014
| Di area makam Bung Karno ada ukiran seperti ini di dinding. Peta Indonesia, tulisan proklamasi dan pahatan. Keren. |
Sebuah tempat pembinaan untuk
narapidana yang perbuatannya melanggar hukum.
Lebih tepat dan ‘halus’ jika saya katakan Lembaga Permasyarakatan
(disingkat Lapas atau LP) saja ya, readers :-)
Rombongan berkesempatan
ke LaPas Anak kelas II A Blitar, Jawa Timur dalam sebuah acara kunjungan belajar (study tour) yang disepakati
oleh dosen ketua jurusan pada bulan Juni 2013 lalu. Wah...udah setengah tahun
yang lalu ya. Saat itu bertepatan dengan berakhirnya workshop Pendidikan
Profesi Guru semester ganjil. Rombongan
berangkat dari Surabaya pukul 05.30 WIB dari Surabaya. Dosen-dosen pendamping
kami lebih on time dan sudah menunggu di bus sebelum jam pemberangkatan. Salut
untuk Bapak dan Ibu dosen!
Ekspedisi ke Gunung Bromo
Rabu, 26 Juni 2013
Keberangkatan
Dua tahun
lalu, seorang rekan saya, Yunus memajang foto-fotonya di Facebook. Foto-foto
perjalanan ke Bromo bermotor ria bersama teman-teman klub Jogja MegaPro-nya.
Saat itu saya Cuma bisa komen : “Keren!” sambil berandai-andai andai saya ke
sana. Saya ingin ke sana! Kawasan Gunung Bromo itu masuk ke dalam Kabupaten
Probolinggo, Jawa Timur.
Nggak
diduga, awal Juni 2013 ada teman PPG yang nawarin ke Bromo. Kebetulan sisa
kursi di mobilnya Mas Wisnu masih sisa 2-3 gitu. Rencana keberangkatan tanggal
5 Juni karena Kamis, 6 Juni-nya libur tanggal merah. Wow. It’s great! Maklumlah
pada tanggal segitu kuliah masih padat. Kami tetaplah manusia-manusia yang
butuh hiburan bernama liburan dengan acara plesiran. Walaupun Jumat, 7 Juni
harus masuk kuliah. Hahaha. Saya dan
Mbak Anis tetap antusias menyambut tawaran manis itu. Iurannya 80.000/orang
untuk transportasi kendaraan. Sip....bungkus!
#Potret: Mengajar itu Berbagi Ilmu
Minggu, 21 April 2013
Berbagi tidak harus dengan uang. Dengan sedikit ilmu yang saya punya, saya dan seorang sahabat berinisiatif membantu Pak Ustad mengajar anak-anak beragama Islam usia SD-SMP di Taman Pendidikan Quran (TPQ) Dusun pu'uwaru- Kab.Ende, Flores NTT. Desa ini memiliki penduduk dengan agama 70% katholik dan 30% muslim dengan kerukunan dan toleransi antar agama tinggi.
Foto (duduk di pojok kanan,berkerudung hijau muda) diambil pada Agustus 2012.
Lokasi : Kabupaten Ende, Flores, NTT.
Kesederhanaan fasilitas tidak menghalangi niat anak-anak ini untuk menuntut ilmu, membaca huruf demi huruf iqro dan Al-Qur'an serta melafadzkan doa maupun memuji keagungan ilahi.
Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi.
Foto (duduk di pojok kanan,berkerudung hijau muda) diambil pada Agustus 2012.
Lokasi : Kabupaten Ende, Flores, NTT.
Kesederhanaan fasilitas tidak menghalangi niat anak-anak ini untuk menuntut ilmu, membaca huruf demi huruf iqro dan Al-Qur'an serta melafadzkan doa maupun memuji keagungan ilahi.
Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi.
Tetap Eksis di Daerah 3T dengan Blackberry dan simPATI
Minggu, 14 April 2013
Tahun lalu, saya menjalankan
pengabdian mengajar setahun di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal).
Saya mendapatkan daerah penempatan di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara
Timur. Hal yang pertama kali ditakutkan
oleh Ibu saya adalah :
“Bagaimana kalau nantinya kami lost
contact dengan kamu?”
Kekhawatiran yang wajar dari seorang
Ibu. Bayangan bahwa nantinya di sana anaknya mengalami kendala besar dalam
berkomunikasi dengan keluarga di rumah. Jika ada kendala dalam komunikasi,
tentunya saya akan kesulitan mengabarkan kondisi saya kepada keluarga di rumah.
Atau yang lebih parah lagi, harus berjalan kaki sekian kilometer untuk
mendapatkan segaris penyelamat bernama sinyal seluler. Mungkin juga Ibu takut
anaknya lenyap di daerah 3T. Hwahahahah. Kalau saya sendiri sih sudah rela dan
mempersiapkan mental jika sampai terisolir karena sulit sinyal. Toh, hanya
setahun.
Lalu, apa yang terjadi? Yuk,
#BacaCeritaku !
Label:
Artikel Lomba,
Blackberry,
simPATI,
Sosialita,
Telkomsel,
Tulisan Menang
Langganan:
Postingan (Atom)

